MARIANUS KILA : TERPANGGIL BERJUANG BERSAMA RAKYAT

Tidak seperti calon legislatif lain yang menjanjikan “angin surga” ketika datang berkampanye, Marianus Kila memperkenalkan dirinya sebagai pejuang dan berniat berjuang bersama rakyat. “Berjuang bersama rakyat” dapat dipresentasikan memberdayakan (empowering) kehidupan sosial, ekonomi, politik dan budaya masyarakat. Marianus yang punya pengalaman di kota metropolitan ingin memberdayakan masyarakat Golewa yang ingin diwakilakan di parlemen Ngada kelak.

Berikut petikan wawancara radarperbatasan.com ketika menemui praktisi hukum yang maju mewakili masyarakat Golewa di pemilihan legislatif di Kabupaten Ngada :

Apa alasan Anda mau maju menjadi anggota DPR di Ngada? Bukankah hidup sebagai praktisi legal di ibu kota sudah sangat cukup?

Ini soal panggilan dari dalam. Tidak ada hubungannya dengan cukup ataupun tidak cukup secara finansial. Semua anak daerah di perantauan merasa terpanggil untuk bisa pulang kampung. Pulang kampung bisa dimengerti dengan dua arti, yaitu pulang secara fisik dan mengirimkan ide-ide pembangunan.

Anda memilih pulang secara fisik?

Saya memilih kedua-duanya. Setelah lama merantau, saya melihat ada banyak hal di kampung halaman saya yang bisa dikembangkan, namun tidak pernah disentuh dengan pembangunan yang memadai. Saya mengambil dua contoh: pengembangan ekonomi bisnis pertanian masih sangat lamban jika dibandingkan dengan daerah-daerah lain. Kedua, karena saya orang hukum, kiranya kehadiran saya bisa membawa pencerahan untuk rakyat terutama dari sisi advokasi dan legal.

Tidak banyak janji yang bisa saya berikan, tetapi saya bisa memastikan saya melakukan pendekatan kepada masyarakat di daerah saya dari hati ke hati. Kami akan berjuang bersama. Berjuang bersama berarti menemukan berbagai persoalan di dalam masyarakat dan mencari jalan keluar bersama. Singkatnya, saya ingin katakan tidak ada jalan pintas dalam pemilu seperti memberi uang kepada pemilih, lalu setelah terpilih melupakan mereka, hingga lima tahun kemudian baru datang lagi dan merayu kembali rakyat. Sudah cukup selama ini rakyat ditipu dengan cara-cara seperti itu.

Sejak kapan Anda merasa terpanggil untuk menjadi caleg DPRD Ngada?

Niat untuk masuk politik tentu bukan keputusan instan. Sudah lama saya melihat ada banyak kekurangan dalam manajemen pemerintahan di Ngada. Hal itu saya amati setelah mencoba membuat perbandingan pelayanan publik di beberapa daerah. Mulai dari situ, saya semakin terpanggil untuk bisa sedikit melakukan perubahan.

Apa atau siapa yang menginspirasi Anda?

Untuk pertanyaan ini, jawaban saya tegas: Ahok. Sosok mantan Gubernur DKI Jakarta yang hari ini lebih ingin dikenal sebagai BTP (Basuki Tjahaja Purnama) adalah salah satu inspirasi politik saya.

Setelah menyelesaikan kuliah hukum, mantan ketua senat fakultas hukum Atma Jaya, jakarta ini sempat bergabung sebagai anggota tim legal di beberapa perusahaan. Saya menemukan bahwa sarjana hukum bisa melakukan banyak hal untuk masyarakat. Maka, di luar dunia kerja, saya tetap memantau pergerakan politik, memberikan penilaian pribadi atas berbagai isu politik, dan berdiskusi dengan banyak pihak.

Hingga suatu saat, fenomena Ahok di ibukota menyita perhatian saya. Ada seorang pejabat publik yang tegas menolak korupi, membangun birokrasi yang sehat, dan memprioritaskan pelayanan publik. Saya terlibat sangat aktif sebagai warga dan sukarelawan bagi Ahok.

Apakah Anda yakin inspirasi Ahok bisa diterapkan di Ngada?

Tentu saja sangat bisa. Kita harus mengakui, setelah KPK menangkap bupati Ngada, ada peluang evaluasi yang sangat besar di Ngada. Orang-orang mulai melihat bahwa ada sesuatu yang salah dalam pemerintahan daerah kita.

Dari Ahok, kita bisa belajar dan menerapkan di Ngada, bahwa transparansi dan pemerintahan yang bersih bisa diterapkan di mana saja. Tentu, ini membutuhkan komitmen bersama mulai dari para pemangku kepentingan seperti anggota DPRD. Jujur saja, selama ini masyarakat kita terlalu permisif dan kompromistis untuk hal-hal yang merugikan rakyat dan negara. Kita harus mengubahnya!

Tadi di awal, Anda mengatakan bahwa ada dua hal yang anda ingin lakukan, pemberdayaan ekonomi dan advokasi hukum. Apakah anda sudah menyiapkan strateginya?

Persis itu dua hal kompetensi saya. Saya pernah bekerja di perusahaan sekuritas dan mempelajari bagaimana pentingnya marketing. Produk-produk pertanian kita mempunyai daya saing yang tinggi. Kelemahan kita ada pada kemampuan mempromosikannya dan menjual ke pasar yang lebih besar. Saya dan beberapa rekan bisnis telah menyiapkan berbagai jaringan untuk pemasaran. Kita bisa mandiri.

Lalu, kedua soal kesadaran hukum masyarakat. Berbagai masalah tanah dan HAM masih menjadi momok di daerah kita. Hadirnya seorang praktisi hukum seperti saya kiranya bisa menjadi harapan baru bagi masyarakat kami di Golewa dan Ngada.

Pertanyaan terakhir, menjadi anggota DPRD berarti menjadi wakil rakyat dan pemimpin. Anda mempunyai pengalaman dan kepemimpinan?

Sejak SMA dan kuliah, saya selalu terlibat aktif dalam organisasi. Menjadi ketua senat hukum di perguruan tinggi seperti Atma Jaya Jakarta adalah pengalaman yang mematangkan saya. Hal itu kemudian berlanjut ketika dipercayakan memimpin divisi legal di berbagai perusahaan. Dalam kehidupan sosial, saya terlibat aktif sebagai penggerak di kalangan masyarakat Ngada di Jakarta. Saatnya saya kemabali ke Kampung halaman, dan saya menawarkan “berjuang bersama”, agar nanti kesuksesan pun adalah buah kerja bersama. (fw)