Mau Tahu Progres Kegiatan Investasi Garam di Kabupaten Malaka??? Ini Penjelasannya.

Malaka – General Manager PT. IDK , Joannes Tarigan mengatakan progres pengerjaan tambak garam di Kabupaten Malaka dilakukan dalam beberapa tahap.

Hal itu disampaikan GM PT IDK di Betun- Kabupaten Malaka, Minggu (17/2-2019)

” Kita sudah selesaikan tambak garam tahap 1 (pilot proyect) di desa Rabasa -Kecamatan Malaka Barat seluas 32.ha”.

” Saat ini kita sementara melakukan pengisian air dan diharapkan bisa menghasilkan garam tahun ini. Itu sudah ready untuk produksi”.

“Tahap kedua, kita sudah laksanakan di desa Weseben dan desa Weoe Kecamatan Wewiku kurang lebih seluas 300 ha dan masih dalam tahapan land clearing”.

“Disana sudah ada 29 alat berat yang bekerja dengan harapan bisa selesai akhir tahun ini untuk pembuatan tambaknya sehingga sudah bisa berproduksi tahun 2020″

” Dalam proses pengerjaan tahap ketiga kita juga berupaya menyelesaikan persoalan di desa Badarai dimana ada penolakan dari para petani garam tradisional di daerah itu”

” Perlu ditegaskan disini bahwa PT IDK tidak akan mematikan petani garam tradisional Malaka termasuk di desa Badarai”.

“Kita akan bantu petani garam untuk tingkatkan mutu produksi garam rakyat agar lebih baik”.

“Kita sudah mengunjungi Bali untuk melihat pengelolaan tambak garam milik rakyat termasuk pemanfaatannya. Itu yang mau kita edukasi kepada petani tradisional Malaka”

” Kesepakatan yang diambil waktu itu, masyarakat pekerja garam tradisional Badarai meminta sosialisasi lanjutan yang melibatkan pemerintah”

” Kita sudah koordinasikan dengan pemerintah terutama dengan dinas teknis terkait untuk sinkronkan waktu sosialisasi di desa Badarai “.

” Kami juga senang karena dengan investasi tambak garam di Malaka ini bisa serap tenaga kerja asal Malaka sebanyak 200 orang yang menyebar termasuk tenaga teknis yang membantu mengoperasikan alat berat di lapangan”.

” Selain tambak garam kita juga membangun jalan raya didesa Rabasa menuju lokasi pilot proyek yang saat ini dimanfaatkan masyarakat setempat untuk melancarkan akses keluar masuk warga ke daerah pertanian termasuk pengangkutan kayu bakar bagi warga yang membutuhkan” .

“Kita juga sudah membangun 3 Paud untuk mendukung pendidikan bagi anak-anak di desa Weoe, Rabasa dan Rabasa Haerain”.
(boni atolan)