Dari Investasi Garam Malaka – Nahak Petrus : Jangan Teriak-Teriak di Jakarta Seolah Kalian Pahlawan Malaka -Kalau Hebat Silahkan Pulang Kampung Beri Contoh Untuk Rakyat

Malaka – ” Jangan Teriak-Teriak di Jakarta seolah kalian Pahlawan Malaka. Ini tanah kami, milik kami. Kami akan manfaatkan lahan itu untuk mensejahterakan keluarga dan anak-anak kami. Kalau memang kalian memiliki lahan di wilayah Wewiku silahkan datang kita diskusi karena kami hanya bekerja pada lahan milik kami dan bukan milik kalian.” (Nahak Petrus – Tokoh Masyarakat Desa Weoe)

Ungkapan itu keluar dari bibir Nahak Petrus, Warga desa Weoe saat ditemui wartawan media ini di areal tambak garam PT IDK di desa Weseben-Kecamatan Wewiku- Kabupaten Malaka- Propinsi NTT, Selasa ( 5/3-2019)

” Saya bersama kurang lebih 200 orang pemilik lahan dari desa Weseben, Weoe hingga perbatasan desa Badarai senang bila lahan kami diolah dan dimanfaatkan untuk mensejahterakan keluarga kami”

” Kalau anda merasa memiki lahan yang saat ini diolah jadi tambak garam oleh perusahaan silahkan datang ke Weoe supaya kita omong. Tetapi kalau merasa tidak memiliki lahan disini sebaiknya jangan ikut campur urusan kami di Wewiku karena ini urusan rumah tangga kami”

” Kami saat ini senang kerja dan tidak ingin buat yang aneh-aneh.
Dulu, anak-anak terlibat kenakalan remaja ditangkap dan dipenjara. Anak-anak main judi dikejar-kejar, anak-anak mencuri kena jeratan hukum. Sekarang anak-anak mau kerja yang baik dengan memanfaatkan potensi yang ada malah kalian protes dan tolak kehadiran perusahaan yang datang. Memangnya kalian siapa dan maunya kalian apa??”

” Kami tidak merusak mangrov seperti yang kalian bilang. Kami hanya mau bekerja sesuai aturan dan lahan kami ditata, dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan anak cucu”

” Kami jalankan kerja ini karena Pemda Malaka menerima PT IDK sejak tahun 2014 untuk berinvestasi di Malaka. Pemerintah panggil kami untuk ikut sosialisasi di Kabupaten, selanjutnya di Kecamatan dan di desa Weoe melibatkan semua pihak dan setuju sehingga perusahaan ini masuk di Wewiku”

” Setelah mendapatkan sosialisasi dan penjelasan panjang lebar kami bisa memahami maksud datangnya perusahaan.
Kami masyarakat pemilik lahan di desa Weoe menerima kehadiran PT IDK”

Pertama, Kami di Weoe dulunya banyak anak nakal dan duduk di deker-deker tanpa pekerjaan sehingga dengan kehadiran Perusahaan ini bisa mengurangi pengangguran di desa.

Kedua, Anak usia produktif yang sudah menikah resmi dan punya anak lalu meninggalkan keluarganya merantau diluar daerah sehingga menjadi beban bagi keluarga yang ditinggalkan.
Kami sangat terbebani sehinga dengan kehadiran perusahaan bisa membuka lapangan kerja bagi masyarakat khususnya di Kecamatan Wewiku.

“Jadi pemikiran kami sebagai orang tua kalau bisa kita manfaatkan lahan yang selama ini dibiarkan dan tidak diolah supaya bisa dimanfaatkan untuk mendapatkan hasil guna meningkatkan kesejahteraan keluarga termasuk memberikan lapangan pekerjaan bagi anak-anak kami”.

“Selama ini tanah-tanah itu tidak bisa digarap untuk lahan pertanian sehingga perlu difungsikan untuk tambak garam.
Kalau untuk buat tambak ikan juga tidak bisa karena saat musim penghujan dirusak banjir dan hasil tambak yang ada sering diserang hama buaya sehingga rakyat tidak mendapatkan hasil dari usahanya”.

Alfons Seran, warga Weoe yang mengaku bersama keluarga besarnya menyerahkan lahan seluas 23 ha meminta supaya perusahaan tetap melakukan aktifitas di lapangan.

“Kita tetap minta pemerintah dan perusahaan agar segera mengatur yang terbaik guna melanjutkan pekerjaan guna percepatan kemakmuran rakyat””

” Sebagai pemilik lahan kami meminta supaya segera lanjutkan pekerjaan agar tidak merugikan pekerja dan petani pemilik lahan ”

” Disini tidak ada tanah kosong karena semua lahan yang digarap ada pemiliknya”.

“Kami tidak merusak hutan mangrov karena kami bekerja diluar areal yang dilarang pemerintah.Walau kami bekerja diluar areal kehutanan tetapi kami berupaya tetap menjaga dan mempertahankan tanaman mangrov yang ada. Justru dengan pekerjaan ini kita bisa tata kembali mangrov kita yang rusak sekaligus mengiptimalkan lahan yang selama ini tidak terurus dengan baik dan terlantar”

“Kami pastikan mereka yang suka teriak diluaran dan buat aksi demo di Jakarta itu bukan orang Wewiku yang memiliki lahan di lokasi tambak garam. Orang-orang yang suka teriak diluaran itu bagi kami tidak memberi solusi untuk rakyat.
Jadi orang yang suka gonggong di face book selama ini hanya rekayasa”.

“Kalau memang kalian yang teriak itu anak Malaka yang hebat silahkan pulang ke Malaka supaya kerja bersama rakyat dan menunjukkan contoh buat rakyat. Jangan hanya bisanya buat kegaduhan baru tanpa solusi karena hal itu sangat mencederai hati orang tua terutama warga pemilik lahan di desa Weoe.

“Kami mau kegiatan harus terus dilakukan memanfaatkan lahan yang ada supaya rakyat bisa makmur”. (boni)