Bupati Malaka Kritisi Pendemo Tambak Garam Malaka -Apa Kata Bupati?? Simak disini!!!!!

Malaka – Ribut-ribut terkait pelaksanaan investasi tambak garam di Kabupaten Malaka oleh segelintir orang yang mengaku dan mendeklarasikan diri sebagai pejuang lingkungan hidup mendapat tanggapan Bupati Malaka.

Bupati menilai aksi demonstrasi yang dilakukan para pendemo merupakan upaya untuk menghalang halangi percepatan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.

Kepada sejumlah awak media di Betun, Senin (1/4-2019) Pencetus program Revolusi Pertanian Malaka itu menyampaikan pernyataan dan pertanyaan kritis kepada sejumlah aksi protes yang dilancarkan segelintir orang untuk menghalang- halangi terealisasinya rencana itu.

Begini pernyataan Bupati yang disampaikan dengan gaya bertutur.

“Sesuai pertanyaan anda ada orang yang ribut tentang investasi tambak garam di Malaka. Apakah saudara-saudara yang ribut itu tidak lihat di pantai utara dan pantai selatan pulau jawa , sepanjang pantai pulau Madura terbentang lahan tambak garam, tambak udang dan tambak ikan bandeng yang sangat luas membentang?”.

“Disana terbentang hamparan tambak garam yang sangat luas. Bahkan dibanding dengan rencana tambak garam yang rencananya hanya 5000 hektar tidak ada apa-apanya . Dalam kondisi seperti itu saja mereka tidak ribut”.

” Kenapa Malaka yang masih tergolong kabupaten baru mekar pada tahun 2013 yang melakukan penataan dan mengoptimalkan kekayaan yang ada untuk membuat tambak garam kog pada ribut.
Ini sebetulnya ada apa.
Apakah rakyat Malaka tidak boleh sejahtera dan tidak boleh makmur menggunakan potensi dan kekayaannya?”

“Yang ribut-ribut ini coba kita lihat asal usulnya. Dari mana mereka yang ribut ini.
Apakah dia orang Malaka? Apakah mereka tidak suka kalau orang Malaka sejahtera dengan memanfaatkan potensi yang ada?”.

“Ini kami buka lapangan pekerjaan bagi rakyat.
Kalau seandainya kita buka 5000 ha sesuai perintah gubernur NTT dengan asumsi dalam 1 ha mempekerjakan 5-8 tenaga kerja maka kalau diambil rata-rara 6 pekerja per hektar maka bisa menyerap tenaga kerja hingga 30 ribu tenaga kerja yang disiapkan. Apakah ini kurang bagus?”

“Tugas pemerintah itu mengurangi pengangguran dan membuka lapangan pekerjaan. Lapangan pekerjaan yang disediakan pemerintah itu yakni memberikan kesempatan kepada investor untuk investasi di Kabupaten Malaka”.

“Sekarang kita konsentrasi di laut dengan memanfaatkan air laut, sinar matahari untuk memproduksi garam.
Saya heran kenapa pada ribut. Kenapa tidak ribut di pulau jawa mulai dari pantai utara dan pantai selatan hingga pesisir pulau Madura kalau dilihat dari pesawat udara terbentang hamparan ladang garam yang luas serta tambak ikan serta tambak udang yang sangat luas?. Ternyata disana semua lahan dikelola dan dioptimalkan pemanfaatannya bagi kemakmuran rakyat”.

“Kalau pulau timor yang dikenal dengan gersang dan NTT yang mendapat predikat miskin apakah tidak boleh kelola potensi lautnya untuk memakmurkan rakyat?”

” Kalau anda mendeklarasikan diri sebagai pejuang lingkungan kenapa tidak ribut dengan usaha tambak garam di Teluk Kupang yang hingga saat ini belum mengantoni izin tetapi usaha tambak garam tetap jalan?.”

“Kenapa di Sabu Raijua buka tambak garam duluan tetapi kenapa mereka tidak ribut. ini ada apa?”

“Saya heran dengan mereka yang suka ribut itu padahal dari namanya saja bukan orang Malaka. Kenapa ribut?
Saya curiga sekali dengan niat baik mereka dan tidak menghendaki Malaka maju kedepan. Memangnya mereka lebih mencintai Malaka ketimbang kita yang hidup dan tinggal di Malaka?. Siapa yang merusak? Kecintaan pada daerah ini masak mereka lebih dari kami? Kami ini lahir, besar dan tinggal di Malaka sehingga sangat mencintai daerah ini. Kami tahu dan mengerti bagaimana
mengelola semua potensi yang ada untuk percepatan kemakmuran rakyat di wilayah ini”

“Kita juga patut pertanyakan mereka yang mengaku sebagai pecinta lingkungan tetapi mereka tidak ribut atas kerusakan hutan lindung Wemer sejak tahun 1999, hingga kini tidak ada upaya perbaikan / pemulihan hutan tersebut, efek jalan Wemer yang rusak dan tidak digunakan hingga kini”.
(boni)