Dari Bawah Naungan Pohon Kakao Hingga Jadi Gedung Megah Berlantai 3

Maumere- (Adv)
227.557anggota KSP Kopdit Pintu Air di seluruh Indonesia patut membusungkan dadanya dan berbangga atas berbagai pencapaian gemilang Kopdit tersebut. 24 tahun berjalan, Kopdit Pintu Air yang sebagian besar anggotanya merupakan Nelayan, Petani, dan Peternak ini akhirnya memiliki sebuah gedung kantor pusat yang megah di Kampung Rotat, Kecamatan Nita; sekitar 15 Kilometer ke arah Barat kota Maumere, Kabupaten Sikka.

Jauh sebelum gedung kantor pusat berlantai 3 tersebut berdiri, Kopdit ini bahkan tidak memiliki kantor. Kala itu, pertemuan bulanan dilakukan di bawah naungan pohon kakao.

Dengan tekad dan kerja keras yang luar biasa, sejak tahun 2017 lalu, seluruh anggota Kopdit Pintu Ait menyumbang 2 ekor ayam @ Rp 50.000 dengan taksiran harga Rp 100.000 untuk pembangunan kantor pusat. Kantor tersebut akhirnya dapat berdiri megah dan menjadi tanda bahwa ketika orang kecil bersatu, mereka mampu membangun hal yang luar biasa.

Selain itu, kemegahannya pun menjadi objek bagi anak cucu di kampung itu untuk membangun imajinasi dan cita-cita hidup mereka untuk berbuat sesuatu yang lebih besar lagi.

“Dalam perjalanan, kita tidak memiliki kantor, sehingga kita pertemuan bulanan di bawah pohon kakao.
Perjalanan demi perjalanan, akhirnya di tahun 2017, kami merancang untuk membuat bangunan ini dan hari ini diresmikan oleh wakil gubernur NTT,” kata Ketua KSP Kopdit Pintu Air, Yakobus Jano dalam acara peresmian kantor pusat KSP Kopdit Pintu Air di Kampung Rotat, Kabupaten Sikka, Jumat (03/05/19).

Ia mengisahkan bahwa 24 tahun silam, Kopdit Pintu Air hanya beranggotakan 50 orang anggota perintis. Dalam perjalanan waktu, anggota Kopdit Pintu Air terus bertambah. Hingga saat ini, Kopdit Pintu Air telah memiliki 227.557anggota dan menjadi penyumbang anggota terbesar dan aset terbanyak dari 37 anggota primer di Puskopdit Swadaya Utama Maumere.

“Pikiran saya pribadi, rasanya di pulau Flores ada 3 keajaiban dunia. Pertama, binatang purba Komodo di Labuan Bajo, kedua danau tiga warna Kelimutu di Ende dan yang ketiga Pintu Air,” tutur Yakobus disambut gelak tawa semua yang hadir.

“Kami ini lahir dari kampung dan hidup dengan orang–orang kampung, lalu bisa memberi spirit seperti ini, merupakan sebuah hal yang luar biasa. Oleh karena itu, saya selalu mengingatkan pada setiap kesempatan: bahwa jangan melihat ini sebagai sebuah perbuatan anda, tetapi anda dan saya hanya dipakai Tuhan untuk melakukan sebuah kebajikan di bumi ini,” sambungnya.

Yakobus di kesempatan tersebut kemudian menegaskan bahwa pekerjaan semua komponen Kopdit Pintu air tidak berhenti pada titik tersebut. Tetapi justru peristiwa hari ini menjadi batu loncatan dan menjadi tugas semua komponen untuk bagaimana terus bekerja agar Kopdit Pintu Air terus hidup seribu tahun lagi. (tim/red/sumber pintu air)