Dana Desa Rp 10 Triliun Mengalir ke NTT, Kemiskinan Tetap Jadi Momok

KUPANG – Sejak digulirkan tahun 2015 hingga tahun 2019, total dana desa yang mengalir ke Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) berjumlah Rp 10.592.633.206. Sayangnya, kemiskinan di NTT tetap menjadi momok dan masalah klasik.

Hal ini diungkapkan Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Provinsi NTT, sinun Petrus Manuk pada kegiatan sosialisasi penguatan BUMDes di Wilayah Provinsi NTT, Senin (20/5).

Petrus Manuk mengatakan, selama lima tahun, total dana desa yang didapatkan setiap kabupaten di NTT, jumlahnya bervariatif tergantung ada berapa banyak desa yang ada di kabupaten tersebut.

Kabupaten Alor sebesar Rp 564.324.461.000, Belu Rp 276.148.586.000, Ende Rp 784.509.444.000, Flores Timur Rp 699.168.739.000, Kupang Rp 575.365.883.000, Lembata Rp 482.938.897.000, Manggarai Rp 523.562.766.000, Ngada Rp 427.720.194.000, Sikka Rp 524.574.369.000, Sumba Barat Rp 266.747.971.000, Sumba Timur Rp 473.407.494.000, TTS Rp 970.335.766.000, TTU Rp 560.760.457.000, Rote Ndao Rp 338.736.344.000, Manggarai Barat Rp 550.446.661.000, Nagekeo Rp 324.218.183.000, Sumba Barat Daya Rp 707.055.098.000, Sumba Tengah Rp 244.681.408.000, Manggarai Timur Rp 627.381.485.000, Sabu Raijua Rp 253.452.522.000 dan Malaka Rp 417.096.478.000.

“Dari data yang ada, Kabupaten TTS paling tinggi mendapatkan dana desa. Tambah Rp 30 miliar lagi sudah sampe Rp 1 triliun,” sebut mantan Kadis Pendidikan dan Olahraga (PPO) Provinsi NTT itu.

Menurut Petrus Manuk, dana desa yang nilainya sangat besar tersebut seluruhnya masuk ke rekening desa. Tidak menetes ke mana-mana, karena dari rekening kas umum negara langsung diteruskan ke rekening kas umum daerah untuk selanjutnya dipindahbukukan ke rekening kas desa.

Namun faktanya, prosentase kemiskinan di NTT secara nasional masih tertinggi dan berada pada urutan ketiga setelah Provinsi Papua dan Papua Barat. Sebab dari lima juta lebih penduduk NTT, satu juta lebih diantaranya adalah penduduk miskin dan bahkan sangat miskin sehingga disentuh dengan Program Keluarga Harapan (PKH).

“Dari zamannya Pak SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) ada program PNPM. Selanjutnya ada program dana desa di era Jokowi. Tapi kenapa kemiskinan di NTT masih paling tinggi? Ini yang harusnya menjadi kegelisahan kita semua,” katanya di hadapan ratusan pengurus BUMDes.

Masih terkait kemiskinan, Petrus Manuk menyebutkan, presentase penduduk miskin di NTT tahun 2017-2018 paling tinggi berada di Kabupaten Sumba Tengah (34,85 %). Disusul Sabu Raijua (31,83%). Sedangkan prosentase penduduk miskin paling rendah ada di Kota Kupang (9%) dan Flores Timur (11%).

“Dulu angka kemiskinan paling tinggi ada di Kabupaten Sabu Raijua dan TTS. Tapi sekarang, angka kemiskinan paling tinggi ada di Kabupaten Sumba Tengah,” katanya.

Selain kemiskinan, Petrus Manuk mengatakan, ‘penderitaan’ NTT kian lengkap karena prevalensi stunting di NTT berada pada urutan pertama dari 34 provinsi se-Indonesia. Sekalipun dalam jangka waktu lima tahun (RPJMD 2013-2018) di masa kepemimpinan Frans Lebu Raya-Benny Litelnoni ada penurunan stunting sebesar 9,1% dari 51,7% menjadi 42,6%.

“Ini persoalan besar kita hari ini, sehingga perlu keterlibatan semua pihak untuk sama-sama mengatasi persoalan yang ada,” tandasnya.

Petrus Manuk menambahkan, dengan penyertaan modal yang bersumber dari dana desa, keberadaan BUMDes di setiap desa sebenarnya sangat strategis dalam percepatan pembangunan ekonomi masyarakat desa. Sayangnya, banyak BUMDes belum optimal menggerakan aktivitas ekonomi di desa.

Di NTT, lanjut Petrus Manuk, ada 3.026 desa. Jika setiap desa memiliki BUMDes, maka jumlah BUMDes di NTT harusnya sebanyak 3.026. Namun saat ini di NTT baru ada 1.087 BUMDes. Dari jumlah yang ada, BUMDes aktif hanya 781.

“Ada satu dua desa sampel yang sudah saya datangi. Seperti di Rote, TTS, Belu, Malaka dan Kabupaten Kupang. BUMDes yang ada skalanya terlalu kecil untuk dijadikan sebagai penggerak ekonomi desa. Ada BUMDes yang hanya punya papan nama dan pengurus, tapi tidak ada aktivitas sama sekali. Ada yang hidup enggan mati tak mau,” ungkapnya.(Sumber : Kumparan News)