“Moris ne Mesti Bali no Haliku Malu” (Catatan kenangan untuk Alm. Bapak Marthin Bria Seran, B.Sc) – Oleh : herryklau

Catatan dan kisah pribadi ini hanyalah sebuah tulisan yang menyeruak kembali di pikiran, untuk mengenang seorang bapak, teman, sahabat yang “pergi” ke alam lain. Catatan ini pun hanya senoktah, karena tak mungkin membahasakan sosok ini hanya pada selembar kertas putih, kini dan di sini.

Pada setiap pertemuan keluarga di Atambua, Belu, Kakak Marthin Bria Seran selalu diundang dan dirinya akan senantiasa memastikan untuk hadir. Selain kapasitasnya sebagai orang yang dituakan dan dianggap paling besar dalam keluarga besar, dirinya juga menjadi tempat bertanya, tempat menimba ilmu dan pengambil keputusan yang tidak bisa diganggu gugat.

“Kaka Marthin itu selalu hadir dalam setiap pertemuan keluarga di Atambua, jika undangannya sampai. Itulah yang selalu kami ingat selama masa-masa kebersamaan di saat masih hidup,” kata Primus Tae Bria, seorang warga Desa Kakaniuk yang tinggal di Kuneru, Kelurahan Manumutin, Kecamatan Kota Atambua, Belu sambil mengenang.

Kepergian Marthin Bria Seran, B.Sc menghadap Sang Khalik, Jumat (22/6/2019) pukul 04.00 wita memang meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarga. Di saat banyak orang dan keluarga berharap untuk terus meminta nasehatnya, anggota DPR RI Partai Golkar periode 1999-2004 itu harus meninggalkan buana ini untuk selama-lamanya. Sebuah kenyataan yang memilukan dan tak harus sekarang. Sebagai manusia memang keluarga tak menginginkan. Tapi siapa yang membantah kuasa Tuhan, jika kita bicara soal kematian?

Seorang warga lainnya di Atambua, Gradus Fahik yang sekarang Kepala Bandara AA Bere Tallo Atambua mengisahkan bahwa sosok Marthen Bria Seran adalah seorang pemersatu dalam keluarga. Figur yang menjadikan keluarga besar di Atambua memiliki hubungan yang erat dan sangat kuat.

“Jika ada keluarga di Atambua yang salah paham atau selisih pendapat, Kaka Marthen yang tampil di depan dan mempersatukan kembali sehingga keluarga tetap rukun. Kaka Marthen tidur tidak tenang kalau mendengar ada keluarga yang renggang hubungannya. Kalimat yang selalu terlontar dari mulut Kakak Marthen, Ita moris iha ema rain ne mesti bali no haliku malu,” kenang Gradus.

Saya juga mengenang hari-hari kebersamaan selama masih berada di Atambua, Belu.

Dalam kapasitas sebagai wartawan, beberapa kali saya dengan teman-teman jurnalis mampir ke rumah Tanah Merah untuk mewawancarainya. Kami selalu datang untuk mendapatkan informasi yang tepat dan akurat baik dalam posisinya sebagai Ketua DPD II Golkar Kabupaten Belu maupun sebagai Tokoh Masyarakat Kabupaten Belu.

“Ketegasan dan kejernihan berpikir sebagai seorang politisi sangat kental. Ketepatan dan keakuratan mengambil keputusan adalah sesuatu yang sangat unik dalam dirinya. Dia tidak mau diwawancarai saat berdiri. Dia mengambil posisi duduk yang sangat elegan, dengan tangannya ditaruh di lengan kursi, dia memberikan statement yang terukur, terarah dan tertata dengan baik sehingga tidak menyulitkan wartawan untuk membuat berita,” saya mengenang kembali.

Ini hanya sebagian ceritera yang terpenggal-penggal buat sosok yang dekat dengan semua orang ini.

Kembali ke topik pertemuan keluarga, terhadap anak-anak, dirinya selalu menanyakan nama dan siapa orang tuanya dan selalu dibarengi dengan pertanyaan lanjutan sekolah di mana, apa orang tuanya sehat dan baik, dan seterusnya.

Di waktu-waktu lain, ketika memberikan petuah atau nasehat dalam pesta-pesta pernikahan adat ataupun gereja, figur ini selalu memberikan perbandingan-perbandingan yang baik dan konstruktif untuk membangun keluarga yang harmonis.

“Beliau selalu menasehati kita berdasarkan sejuta pengalaman yang dirasakan dan dilihat bertahun-tahun, sehingga apa yang baik ditingkatkan sementara yang tidak baik ditinggalkan agar hidup ini menjadi baik dari waktu ke waktu,” kata Primus Tae Bria.

Terlepas dari banyak kisah dan kenangan bersamanya, baik dari keluarga maupun siapa saja yang mengenal beliau, sosok Marthin Bria Seran adalah seorang Bapak bagi 4 orang anak yang dalam kesehariannya tentu mengalami suka dan duka sebagai Kepala Keluarga dan suami dan ayah bagi istri dan anak-anak.

Tentunya, kisah itu akan diungkapkan pada waktu dan kesempatan lain.

Dalam catatan pribadi saya, Oktober 2016 silam saat bersama keluarga mengurus pesta pernikahan seorang anak, di hadapan kami semua, Kakak Marthin (biasa kami memanggilnya dengan sebutan itu) mengajarkan kepada kami untuk selalu berjabatan tangan dengan setiap orang yang kita temui.

“Saya ingatkan kepada anak-anak semua, untuk setiap waktu, di mana saja dan kapan saja, jika bertemu dan bertegur sapa dengan siapa saja, jangan lupa berjabatan tangan. Siapa tahu, setelah jabat tangan ini Tuhan memanggilNya pulang dan kamu akan punya ceritera tentang dia,” katanya waktu itu.

Kini, sosok yang mengajarkan kami tentang banyak hal itu telah pergi dan takkan bersama kami secara fisik.
Akan tetapi kata-kata, nasehat, perhatian, cinta kasih dan kehidupan yang pernah dijalani bersama, menjadi catatan yang takkan pernah sirna ditelan sang waktu.
Teladan hidup yang ditunjukkan Kakak Marthin Bria Seran selama masih hidup takkan pernah hilang dan lenyap dalam ingatan. Kami sudah menulisnya pada diary hidup masing-masing.

Kalimat “moris ne mesti bali no haliku malu” akan selalu terngiang di telinga sehingga waktu yang akan mempersatukan kembali kita di Rumah Bapa yang abadi

Selamat jalan Kakak Marthin, doa kami selalu mengiringi perjalananmu ke keabadianmu. Teringat kata-kata Nabi Ayub, Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambilnya pula.
Requescat in Pacem, beristirahatlah dalam damai.(*)