IPMATTU MALANG TAMPILKAN TARIAN DAERAH TIMOR TENGAH UTARA

Malang – Kelompok tari dari Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Timor Tengah Utara (IPMATTU) Malang menampilkan tarian daerah Timor Tengah Utara dalam acara Parade Budaya Nusantara VI yang diselenggarakan oleh Universitas Tribuana Tunggadewi (UNITRI) Malang, pada Sabtu (29/6), di pelataran kampus UNITRI Malang. Kelompok tari IPMATTU Malang menampilkan masing-masing satu nomor Tari Gong dan Tari Bidu. Kedua tarian itu ditampilkan secara dramatik, dalam sebuah fragmen singkat yang menggambarkan bagaimana acara penjemputan Tiga Raja Biinmaffo (Biboki, Insana dan Miomaffo) di Timor Tengah Utara lazimnya berlangsung.

Kerajaan Biboki, Insana dan Miomaffo sendiri merupakan tonggak sejarah dari wilayah administratif Kabupaten Timor Tengah Utara, sebuah Kabupaten di Propinsi Nusa Tenggara Timur. Dikisahkan, pada tahun 1915, pemerintah Hindia Belanda membentuk sebuah wilayah pemerintahan di bagian tengah pulau Timor, yang terdiri dari gabungan tiga wilayah kerajaan atau swapraja tersebut, dengan nama Onderafdelling Noord Miden Timor. Pada mulanya ibukota wilayah pemerintah itu berkedudukan di Noeltoko, sebelum akhirnya pada tahun 1922 dipindahkan ke Kefamenanu. Kefamenanu kemudian dijadikan sebagai ibukota Kabupaten Timor Tengah Utara hingga sekarang. Demikian dituturkan dalam sebuah narasi tentang sejarah dan profil singkat yang disampaikan pada bagian awal penampilan kelompok tari IPMATTU Malang tersebut.

Dalam pementasan tersebut, acara penyambutan Tiga Raja Biinmafo diawali dengan tutur adat (Takanab) yang diikuti dengan pengalungan selendang dan ricikan air yang telah didoakan secara adat, untuk menghalau segala bentuk kuasa gelap dan kejahatan (Maputu, Malala) serta memberikan berkat dan kesejahteraan (Manikin, Oetene). Kemudian Tiga Raja Biinmafo bersama para panglimanya (Meo Naek) diarahkan ke tempat duduk yang telah disediakan, dengan diiringi Tari Gong. Di sana para Raja dan Panglima itu dijamu dengan sirih pinang (Puah Manus) serta arak (Tua), sebagai simbol penghormatan dan ikatan kekeluargaan. Sambil menikmati jamuan itu, Tari Bidu dimainkan sebagai suguhan hiburan bagi para Raja dan Panglima.

Ketua IPMATTU Malang, Yohanes Hanoe, menuturkan bahwa selain untuk memperkenalkan kekhasan budaya daerah Timor Tengah Utara kepada segenap masyarakat akademik di UNITRI Malang, penampilan budaya tersebut juga dimaksudkan untuk mengajak para mahasiswa dan mahasiswi asal Timor Tengah Utara supaya tidak melupakan budaya daerahnya sendiri. “Kegiatan Parade Budaya Nusantara ini diselenggarakan untuk memberikan kesempatan kepada para mahasiswa dari masing-masing daerah untuk memperkenalkan dan menampilkan kekhasan budayanya, terutama yang berkaitan dengan kesenian daerah. Untuk kita sendiri, tahun ini konsepnya kita sisipkan juga dengan narasi singkat tentang sejarah dan profil Kabupaten TTU supaya baik teman-teman dari daerah lain maupun kita sendiri bisa tahu dan ingat kembali. Sebagai mahasiswa, apalagi di tempat perantauan seperti ini, kita tidak boleh lupa dengan budaya dan sejarah kita sendiri. Apalagi ini kegiatan promosi budaya daerah, jadi sejarah-sejarah daerah juga mesti disampaikan supaya bisa diketahui bersama.” Tutur Yohan.

Sementara itu, Yance Suni, salah seorang senior IPMATTU Malang yang ikut mempersiapkan penampilan tersebut mengungkapkan bahwa hingga pada saat penampilan tarian ini, sudah ada beberapa mata acara yang dipangkas akibat kekuarangan perlengkapan yang dibutuhkan untuk pementasan. “Kita awalnya punya konsep supaya ada juga tari Likurai yang dibawakan oleh teman-teman dari Biboki. Tetapi kita tidak punya alatnya sehingga akhirnya kita pangkas. Bahkan yang meronggeng tadi juga tidak pakai giring-giring. Kita memang masih kekurangan beberapa perlengkapan untuk pentas. Ke depannya kita mesti pikirkan bagaimana caranya supaya bisa dapat dan punya inventaris barang-barang itu. Apalagi ini kegiatan rutin setiap tahun, jadi kita juga harus siapkan diri jauh-jauh hari.” Ungkap Yance.

Acara Parade Budaya Nusantara sendiri merupakan acara rutin tahunan yang diselenggarakan oleh UNITRI Malang. Acara ini terdiri dari dua acara besar, yaitu karnaval budaya dan pementasan kesenian daerah. Acara yang telah dilaksanakan secara berutut-turut selama tujuh kali sejak tahun 2012 ini dimaksudkan untuk memberikan kesempatan kepada para mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia yang sementara mengenyam pendidikan di UNITRI Malang untuk menampilkan kesenian budayanya masing-masing. Kesempatan yang sama juga diberikan kepada berbagai UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) di lingkungan UNITRI Malang sebagai ajang ekspresi diri.

Acara Parade Budaya Nusantara ini merupakan salah satu bentuk konkrit dari komitmen UNITRI Malang untuk menunjukkan diri sebagai Kampus Kebudayaan yang menerima dan menghargai keanekaragaman budaya daerah Nusantara dalam semangat Bhineka Tunggal Ika. Acara Parade Budaya Nusantara itu disponsori oleh masing-masing organisasi mahasiswa daerah (orda) dari berbagai kabupaten di Indonesia, yang sementara menempuh pendidikan tinggi di UNITRI Malang. Sebagaimana terlihat dalam acara yang berlangsung pada malam itu, selain penampilan dari kelompok tari IPMATTU Malang, ada juga penampilan kesenian daerah dari kelompok mahasiswa Papua, Kalimantan, Maluku, Aceh, Jawa, Madura, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat dan juga kelompok mahasiswa dari negara Timor Leste. (Ino Sengkoen).