Final ETMC : Laskar Komodo Siap Menerkam Ayam Jago Malaka?

Partai final El Tari Memorial Cup (ETMC) 2019 kali ini merupakan pertandingan prestise karena selain membawa nama daerah (Kabupaten) juga merupakan pertarungan dua etnis di Nusa Tenggara Timur (NTT) dari dua pulau besar Timor dan Flores.


Lolosnya Persemal Malaka (Timor) yang akan ditantang Persamba Manggarai Barat (Flores) membuat tensi pertandingan semakin tinggi. Disamping merebut trophy ETMC 2019, juara dari turnamen ini akan mewakili NTT dipenyisihan Liga 3 PSSI.

Secara tim kedua kesebelasan memiliki kualitas pemain yang sama baiknya. Demikian juga team work, skill individu hingga fighting spirit tidak jauh berbeda.


Menurut pengamatan Elton Wona putra Nagekeo yang pernah memperkuat Persema Malang, pertandingan final hari ini bakal beralangsung seru. Kemenangan salah satu tim bakal tercapai apabila mampu memanfaatkan peluang yang diperoleh, tutur lelaki hitam manis yang pernah menangani Persena Nagekeo di Copa NTT I.

Lanjut Elton, sebagai tuan rumah Persemal Malaka bisa memenangkan laga ini jika mereka mampu memaksimalkan dukungan para suporternya. Kehadiran pemain ke dua belas ini bisa menambah semangat juang para pemain laskar Manu Meo, Malaka. Karena ini laga final, biasanya faktor ketenangan menjadi faktor yang tidak kalah penting.

Very Bili mantan striker Popsi dan PSK Kupang punya pendapat berbeda. Saya jagokan Persamba Manggarai Barat, dengan catatan harus bermain sabar, jangan terbawa pola permainan Persemal yang cendrung menerapkan strategi long pass football.

Lanjut anak sumba yang sempat memperkuat tim yunior Perseden Denpasar, jika Laskar Komodo mampu bermain tenang dengan melakukan transisi bertahan ke menyerang dengan cepat, maka tidak menutup peluang bagi Persamba membawa trophy ETMC ke Labuan Bajo. Mereka punya pemain berpengalaman bisa mengatur ritme permainan, dan ini sudah dibuktikan dengan mengalahkan Perse Ende di semi final.

Manu Meo Malaka akan memainkan sepakbola klasik ala Inggris, dengan memanfaatkan kecepatan dua ujung tombaknya. Pola ini jika tidak pandai menjaga ritme permainan, bisa jadi keteteran karena sangat menguras stamina para pemain. Sebaliknya Persamba tetap akan bermain dengan tempo sedang, solidnya lini tengah Persamba bisa membendung serangan pasukan Manu Meo dari sektor tengah, timpal Roy Willa mantan pemain Elnusa Jakarta.

Pertandingan malam ini merupakan pembuktian siapa raja kotak pinalti, Yoko (Persemal) ataukah Ikhsan (Persamba). Kedua striker ini punya kualitas dan naluri dalam penyelesaian akhir. Keduanya dalam laga semi final sama-sama membukukan dua gol.

Pertandingan final ETMC malam ini menjadi diskusi hangat di grup What App NTT All Star. Para mantan pemain yang pernah memperkuat tim sepakbola di NTT dan sejumlah Klub Liga Nasional di Jakarta, berharap kompetisi di NTT tidak dilakukan dua tahun sekali, bila perlu setiap tahun, karena Liga Indonesia diputar setiap tahun.

Ari Bali berpendapat, walaupun regulasi PSSI membolehkan pemain dari luar, sebaiknya Asprov NTT membatasi pemain dari luar NTT, sehingga pemain lokal dapat memperoleh kesempatan untuk bermain di kompetisi dua tahunan ini. Kompetisinya saja dua tahunan, giman bibit muda mau berkembang ? Saya dapat informasi Bintang Timur FC hanya menambah 5 pemain dari luar, ini bagus untuk mendongkrak mutu pertandingan, timpal Ari mantan pemain Suratin dan Bonak Kupang.

Abdul Muis mengusulkan agar tidak kehilangan momentum kita bisa buat satu diskusi tentang sepakbola, hasil diskusi ini bisa kita sampaikan ke Gubernur dan Askab/Askot untuk sama-sama kita reformasi Asprov NTT, tegas penggiat Masgibol Kupang yang tengah memperdalam ilmu sepakbolanya di Jakarta.

Kalau mau bangkit jangan terus berwacana, diskusi kita tidak sebatas wacana lagi, sudah saatnya NTT punya Klub di Liga 2 yang bermain di level nasional. Kita punya talenta yang tidak kalah dengan Papua atau Maluku. Kalau semua potensi ini kita maksimalkan dan ditopang dengan semangat Gubernur dan Bung Fahry Francis, saya rasa mimpi kita untuk melihat Klub Liga 2 atau 1 bermain di Kota Kupang atau NTT seperti dahulu bisa terwujud, tutur Frans Watu, Koordinator NTT All Star yang juga Ketua Departemen Pemuda dan Olahraga FKM Flobamora.

NTT All Star pernah membuat forum diskusi tentang akuisisi Klub Liga 2 dan berhombase di Kupang atau Flores (Ende/Labuan Bajo). Pemikiran ini sudah kami sampaikan lewat salah satu anggota kita dalam bentuk proposal mini kepada salah satu penggagas dan sponsor, lanjut Agustinus Maufa mantan pemain yang kini aktif sebagai Wasit berlisensi C2.

Tiga kota Kupang, Ende dan Labuan Bajo sebagai sasaran home base karena dari sisi transportasi dan sarana sangat mendukung. Di Kupang dan Ende ada Stadion Oepoi dan Marilonga, transportasi dari Bandara ke Lapangan relative dekat. Sedangkan Labuan Bajo karena destinasi wisata. Klub ini bisa menjadi tools mempromosikan destinasi wisata dan produk lokal NTT, tegas Yun Bali, eksekutif muda mantan pemain Perse.

Mantan pemain NTT All Star yang kini berkiprah di luar NTT seperti, Yopi Riwoe mantan pemain Persija Jakarta dan Timnas Indonesia, kini menjadi Pelatih Timnas Putri Indonesia bersama Ruly Nere. Polce Kia mantan pemain Pelita Jaya dan Barito Putra saat ini ditunjuk menangani tim Pra PON Kalimantan Tengah. Eduard Mangilomi di Surabaya, Hubert Manek di Bekasi, Dwi Pranyudha Jakarta. Saatnya sepakbola NTT bangkit, lewat sepakbola kita berharap bisa menjadi media promosi pariwisata NTT. (fw)