Inilah Kuliah Umum  Yang Digelar Prodi S1 Pendidikan Seni Pertunjukan Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta oleh :Dr. Ririt Yuniar, S.Sos,M.Hum…. Simak Disini!!!!

Strategi Komunikasi dalam Penerapan
Nilai-nilai Pancasila sebagai Materi
Inspiratif Pendidikan Seni Pertunjukan

Pancasila sebagai dasar Negara menjadi Paradigma Nasional  sekaligus mengandung makna bahwa nilai-nilai yang terkandung didalamnya menjadi pedoman bagi masyarakat. Nilai dasar ini acapkali  dianggap pedoman yang normative dan abstrak yang dapat dijadikan  landasan dalam kegiatan bernegara. Namun demikian, nilai-nilai ini dapat  di konkritkan menjadi sebuah aksi tindakan nyata dalam kehidupan
keseharian.  Lebih mengerucut lagi kegiatan tersebut juga dapat  dipedomani oleh seluruh lapisan masyarakat dalam segala macam
profesinya.

Hal tersebut sebagai contoh pada profesi pendidik atau guru  tentunya dalam kontek belajar mengajar yang merupakan salah satu tugas professional pendidik sebaiknya mampu menerapkannya dan  menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari. Tri darma perguruan tinggi baik itu penelitian, pengajaran, maupun pengabdian masyarakat hendaknya mampu menerapkan nilai-nilai Pancasila baik dalam tataran  konseptual dan praktisnya.

Peran Guru atau pendidik sangatlah penting guna mewujudkan
cita-cita bangsa Indonesia demi mewujudkan amanah Presiden Republik
Indonesia yang mengatakan bahwa: “Guru bukan hanya sebuah
pekerjaan, tetapi guru adalah menyiapkan sebuah masa depan”.(JokoWidodo). Dimana guru dalam mewujudkan masa depat itu, menjadi aktor penting dalam mewujudkan pendidikan karakter yang sejalan dengan paradigma Nasional Bangsa Indonesia yaitu Pancasila. Terwujudnya
generasi milenial yang aware terhadap situasi kekayaan keberagaman
bangsa Indonesia menjadi poin penting yang perlu diperhatikan dan  dimulai sejak dini didalam pendidikan generasi muda. Karakter tersebut
dapat diwujudkan pada kurikulum maupun praktek berkesenian.

Dalam  konteks ini menjadi sebuah grand design penting pada substansi
pengajaran dalam setiap materi pendidikan seni pertunjukan.
Tidak dapat dipungkiri bahwa pentingnya penerapan nilai-nilai
Pancasila disini menjadi sebuah keniscayaan yang menjadi wajib
hukumnya bila dipandang dari sudut yang berbeda. Dalam segala aktifitas
kehidupan berbangsa dan bernegara di bumi Indonesia tercinta ini, akhir-
akhir ini pro kontra dan konflik menjadi hal yang sering terjadi akibat
kebhinekaan. Oleh karena itu, dalam membangun karakter generasi masa
depan yang visioner, dinamis dan berkualitas diperlukan fondasi yang
kuat.

Nilai-nilai Pancasila tidak akan dapat terimplementasikan secara
optimal jika tidak menggunakan strategi komunikasi yang tepat dalam
menyampaikannya. Peran komunikator yang dapat dijadikan teladan, juga
perlu menjadi perhatian. Jika tidak, yang ada hanya akan menjadi cibiran
dan bahkan cemoohan segelintir oknum yang apatis terhadap idealism
bangsa Indonesia.


Kesempatan ini menjadi langkah awal yang penting dimana  strategi komunikasi dalam penerapan nilai-nilai Pancasila dapat menjadi  upaya mengatasi bagaimana menghadapi persoalan dinamika  Multikultural dan Kebhinnekaan yang acapkali dijadikan “alat” memecah persatuan dan kesatuan bangsa. Suatu hal yang keliru dan perlu
dipertanyakan bila terjadi demikian terus menerus.

Kemana Pancasila? Dimana fondasi itu? Ada apa dengan bangsa Indonesia? Sebagai generasi  bangsa yang bermartabat, tentunya melalui teladan guru dan para  pendidik, mampu memberikan inspirasi positif menangani segala macam  dinamika yang terjadi akibat keberagaman. Keberagaman dan
Kebhinekaan menjadi salah satu solusi alternative bagi terwujudya NKRI.
Nilai-nilai Pancasila yang termaktub dalam kelima sila nya dan butir-
butirnya, tentu dapat menjadi inspirasi kreatif dalam mewujudkan karya
seni pertunjukan yang beranekaragam. Melalui konsep ideal bangsa
tersebut sejalan dengan Visi Misi ISI Yogyakarta, …… dalam mewujudkan
penciptaan seni maupun menelorkan gernerasi pendidik seni pertunjukan
yang memegang teguh dan mengoptimalkan penerapan nilai-nilai
Pancasila dalam konsep dan karya nya. Yang mana karya seni di
Indonesia ini sangat beragam dan berkembang pesat.


Keanekaragaman seni telah berkembang menjadi berbagai macam
jenis dan karakteristik, seperti seni visual (visual art) antara lain seni
patung, seni lukis, seni instalasi, seni keramik, fotografi, karikatur dan
lain-lain, serta seni pertunjukan (performing art) di antaranya seni musik,  seni tari, drama atau teater, wayang orang, dan sebagainya. Akan tetapi, bidang-bidang seni ini cenderung terkotak-kotakkan sesuai dengan
genrenya, sehingga hanya berkembang dari akarnya masing-masing.

Hal  ini nampak menjadi seni yang terpisah-pisahkan dan adanya gap antara  satu sama lain. Selain itu, wadah kegiatan seni antara seni tradisi dengan
seni modern yang terpadu kurang terwadahi dengan optimal sehingga
mampu meleburkan, mengkolaborasikan, dan menginteraksikan berbagai
bidang seni tersebut menjadi suatu kesatuan bahkan dapat menciptakan
karya seni yang baru. Pembagian seni secara konvensional ke dalam Seni
Rupa dan Seni Pertunjukan juga dapat dituduh sebagai faktor pendorong
terkotak-kotakkannya seni di Indonesia. Seiring perkembangannya, seni pertunjukkan terbagi menjadi seni
pertunjukan tradisional dan seni pertunjukan modern. Seni berfungsi
sebagai edutainment artinya mengedukasi masyarakat dan juga memberi  hiburan pada masyarakat. Hal ini tidak lagi hanya bertugas pada tujuan
penyampaian informasi dengan tepat atau efisien. Seni sebagai hasil karya
manusia menempati kedudukan dan peran yang khusus, serta di dalam
setiap pementasannya karya seni dapat memuat pesan yang ingin
disampaikan kepada penonton atau audience. Pesan tersebut dapat
bersifat sosial, moral, politik, ekonomi, kesehatan, dan sebagainya.
Ditegaskan pula oleh Soedarsono (2002) dengan mengkategorikan
fungsi seni pertunjukan menjadi dua, yaitu fungsi primer dan fungsi
sekunder. Yang dimaksud dengan fungsi primer adalah fungsi seni
pertunjukan itu ditampilkan untuk siapa. Disebut sebagai seni
pertunjukan bila ada yang mempertunjukan dan ada yang menikmatinya.

Fungsi sekunder seperti untuk propaganda agama, untuk pengikat
solidaritas sosial, untuk propaganda politik, untuk ajang pertemuan
seperti misalnya arisan, dan masih banyak lagi.2Seni cenderung lebih mengarah pada tercapainya peningkatan dan pemenuhan pengalaman manusia lewat perjumpaannya dengan realita
media seni. David Brain memandang nilai, fungsi, dan makna seni rupa
sebagai sesuatu yang dikonstruksi dan dibentuk, bukan “ditemukan” atau
bersemayam dalam wujud material seni.3 Senada dengan hal tersebut,
pemahaman berkaitan dengan performance studies yang menjadi
perspektif dalam tulisan ini, ingin mengupas persoalan pengkotak-
kotakkan seni tersebut mejadi sebuah karya seni yang “borderless”.
Dalam keberagaman itulah nilai-nilai Pancasila dapat mewujud sebagai semuah konsep maupun konteks dalam penciptaan dan pengajaran seni
pertunjukan.

Bentuk dari perkembangan kebudayaan yang merefleksikan  fenomena sosial dan daily life atau kehidupan keseharian dengan menunjukkan kondisi saat ini dapat diterapkan melalui karya seni.
Berbagai pendekatan komunikasi dilakukan melalui seni karena
mempunyai sifat yang lebih mudah ditangkap, dicerna, dan diapresiasi
sehingga lebih mudah diminati oleh masyarakat luas. Menyampaikan
pesan melalui seni dinilai tidak hanya persoalan memperhatikan
bagaimana isi pesan dibuat, namun bagaimana karya besar dihasilkan,
ditampilkan, dilestarikan, dan diapresiasi oleh massa atau audience
sehingga tujuan utama pesan tersebut dapat sampai dengan tepat.

Pesan moral melalui pendidikan karakter yang substansinya adalah nilai-nilai Pancasila perlu dilestarikan dan menjadi sebuah konsep yang popular
bagi para pencipta dan penikmat seni.
Berbagai bentuk kolaborasi dan kontribusi antara berbagai genre
dilebur agar tidak terkotak-kotakkan, sehingga diharapkan tidak lagi adanya batasan ranah kajian seni. Performance studies memberikan atau menawarkan pemahaman yang lebih komprehensif, integral, dan holistik, dalam dunia seni. Bahkan everyday life seperti pidato, olahraga, kampanye politik, propaganda, permainan, art making process, ritual,
adalah the part of art sehingga kini seni tidak terikat lintas batas ruang
dan waktu.

Melalui karya seni bangsa Indonesia kaya akan sarana penyampaian pesan yang creative dan innovative. Dengan seni pesan dapat menerobos batasan-batasan institusional yang sulit terjangkau menjadi mudah diterima, luwes, damai dan dinamis. Semoga karya tulis ini dapat menginspirasi para pembaca dalam mendidik, mencipta, dan
mengabdi. (ita)