Didukung PSN Ngada, Fary Djemi Francis, Maju Dalam Suksesi Ketua Umum PSSI.

Menjelang kongres PSSI awal November, calon Ketua Umum mulai tampil memperkenalkan diri dihadapan publik. Komite Pemilihan telah mengumumkan 8 dari 11 nama hasil verifikasi. 3 nama yang tidak lolos verifikasi Arif Putra Wicaksono, Sarman El Hakim dan Yesaya Oktovianus.

Untuk Wakil Ketua Umum ada 8 orang dinyatakan tidak lolos, Ahmad Riyadh, Augie Bunyamin, Budi Setiawan, Gusti Randa, Sali Akya, Wadi Azhari Siagian, Doni Setiabudi dan Yesaya Oktovianus.

Sementara itu untuk calon Anggota Eksekutif terdapat 20 nama yang tidak lolos. Ada beberapa orang yang tidak lolos namun mereka masih diperbolehkan melakukan banding atas keputusan tersebut. 3 orang dari calon Ketua Umum, Wakil Ketua Umum 1 orang dan Anggota Eksekutif 1 orang. Mereka diberi waktu hingga tanggal16-18 Oktober 2019.

Dari nama-nama Calon Ketua Umum terdapat sejumlah muka lama sebut saja La Nyala Mataliiti, Bernard Limbong, Rahim Sukasah.

“Kalau ada yang baru kenapa pilih yang lama, toh yang lama kita sudah tahu sepak terjang dan prestasinya. Berikan kesempatan kepada yang baru dengan konsep dan program yang konkrit demi pengembangan dunia sepakbola nasional”, demikian papar Frans Watu mantan pemain Persija Barat dan Galatama.

Hadirnya sosok Fary Djemi Francis mantan penjaga gawang Bank Suma, perintis sepakbola dari perbatasan Timor Leste mendapat apresiasi dari perkumpulan mantan pemain NTT (NTT All Star) seperti Lourens Fernadez, Agustinus Maufa, Yun Bali, Ari Bali, Marsel Muja, Yopi Riwoe, Nelson Noak, Dwi Pranayudha, Pethu Abanat, Polce Kia, Ricky Keang, Veri Bili, Pius Pake, Abdul Muis.

“Fary kita kenal baik tentang komitmen dan dedikasinya di dunia sepakbola. Beliau pesepakbola yang terjun ke dunia politik, Bukan seperti yang lain, dari politik terjun ke sepakbola. Beliau selalu menyempatkan diri mengunjungi stadion dan home base klub sepakbola diman manca negara disela kesibukannya sebagai Ketua Komisi V DPR RI. Ini bukti kepeduliannya terhadap pengembangan sepakbola”, tutur Koordinator NTT All Star Frans Watu.

Fary tokoh sepakbola asal NTT maju dengan dukungan dari PSN Ngada anggota Liga 3 dari Nusa Bunga Flores (NTT). Sayangnya dukungan tertulis yang disampaikan PSN Ngada, tidak diikuti oleh Asosiasi Sepakbola Provinsi NTT dibawa kepemimpinan Frans Lebu Raya dan Lambert Tukan. Kenapa demikian hanya Frans Lebu Raya yang bisa menjawab, karena kono informasi yang kami terima dukungan Asprov NTT diberikan kepada kandidat yang punya dukungan finansial yang memadai. Sepakbola dibangun tidak semata dengan dukungan fiansial, perlu cinta dan jaringan yang memadai serta intgritas.

Jika para voter memilih karena ada sesuatu dibalik itu, saya kira sepakbola Indonesia sedang menggali kuburannya sendiri. Kita jangan berharap Timnas akan berbicara di level yang lebih tinggi kalau sepakbola diurus seperti sekarang.

Saya takut Asprov NTT sudah masuk angin, karena kandidat yang maju dalam perebutan Ketua Umum PSSI kali ini ada beberapa yang mengandalkan dukungan finansial, mereka akan menghalalkan segala cara. Hal ini lazim dalam perebutan tampuk pimpinan di setiap organisasi yang strategis, uang bisa mengalahkan moral dan melulukan hati, lanjut Frans Watu.

Pada kesempatan ini kami mengajak teman-teman dari Asprov PSSI NTT dibawah kepemimpinan Frans Lebu Raya untuk membangun kebersamaan sebagai sesama warga diaspora NTT.

Fary merupakan orang NTT kedua yang mencalonkan diri sebagai Ketua Umum PSSI setelah Yacob Nuwa Wea mantan Menteri Tenaga Kerja di era Presiden Megawati.

Pada Kongres PSSI 2003, ketika pemungutan suara tahap pertama, Nurdin Halid meraih 131 suara, Yacob Nuwa Wea 134 suara, Sumaryoto hanya 88 suara. Karena tidak ada satu calon pun yang memperoleh 50 persen plus satu suara, digelarlah pemilihan ulang, hanya diikuti Nurdin Halid dan Yacob Nuwa Wea. Dalam pemilihan kedua, Nurdin meraih 183 suara, mengalahkan Nuwa Wea dengan 167 suara. (fw)