MENYAMBUT TAHUN BARU DI PERBATASAN NEGARA, KELOMPOK PEDULI DESA MANUSASI SELENGGARAKAN DISKUSI PANEL.

Redaksi

Para pemuda yang tergabung dalam Kelompok Peduli Desa Manusasi menyelenggarakan kegiatan diskusi panel dengan tema “Desa Perbatasan; Mau Dibawa Ke Mana Desa Manusasi?”, bertempat di aula kantor Desa Manusasi, pada Senin (30/12/2019).

Kegiatan diskusi panel ini menghadirkan beberapa akademisi, birokrat serta komandan Pos Pengamanan Perbatasan RI-RDTL sebagai panelis, guna membahas berbagai persoalan seputar pengembangan desa Manusasi, mulai dari tata kelola pemerintahan, kapasitas aparat, BUMDES, pendidikan masyarakat, peran pemuda dan pemudi, pengelolaan pertanian dan peternakan, hingga ketahanan masyarakat desa. Kegiatan ini dihadiri oleh aparat pemerintah desa, tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh perempuan, tokoh pemuda, akdemisi, mahsiswa, pelajar dan masyarakat Desa Manusasi.

Desa Manusasi berada di wilayah kecamatan Miomaffo Barat, Kabupaten Timor Tengah Utara. Desa ini merupakan salah satu desa terdepan dari Republik Indonesia, lantaran posisinya yang berbatasan langsung dengan Distrik Ambenu, Republik Demokratik Timor Leste (RDTL). Kegiatan diskusi panel ini merupakan bentuk silaturahmi perayaan Natal 2019 dan menyongsong Tahun Baru 2020 antara pemerintah dan masyarakat Desa Manusasi dengan putra-putri asal Desa Manusasi yang telah berkarya dalam berbagai bidang dan lembaga di wilayah kabupaten Timor Tengah Utara dan Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Kegiatan ini dibuka oleh Sekretaris Desa Manusasi, Benyamin Daos. Dalam sambutannya, Benyamin mengapresiasi kegiatan diskusi panel ini sebagai hal yang sangat bermanfaat guna memperdalam wawasan dan pemahaman masyarakat tentang pengembangan desa Manusasi ke depan. “Pemerintah Desa Manusasi berterimakasih kepada para pemuda yang tergabung dalam Kelompok Peduli Desa Manusasi, yang sudah berinisiatif menyelenggarakan diskusi ini. Lewat kesempatan ini, diharapkan kita sekalian, baik sebagai aparat pemerintah maupun masyarakat desa Manusasi, akan mendapatkan pencerahan dan wawasan untuk pengembangan desa kita ke depannya. Kegiatan ini sekaligus bisa menjadi kesempatan yang baik bagi kita untuk mengevaluasi dan memberi solusi terhadap berbagai persoalan kita di Desa Manusasi selama ini,” tutur Benyamin.

Dalam pemaparan materinya tentang peran pendidikan bagi pengembangan desa, Omianus Sabu, S.Pd., M.Pd mengungkapkan bahwa pendidikan merupakan tonggak utama bagi pengembangan dan kemajuan desa. Melalui pendidikan, setiap orang dapat mengakses pengetahuan dan keterampilan yang kemudian dapat diimplementasikan untuk menata, memperbaiki serta memajukan desa. “Untuk membangun desa, tentu kita butuh sumber daya manusia yang berkualitas, dan hal itu hanya bisa diupayakan lewat pendidikan. Profil sumber daya manusia yang berkualitas bisa tampak melalui kemampuan untuk membuat perencanaan, mengambil dan menjalankan kebijakan, kreatif dalam mencari dan menciptakan alternatif, menangkap peluang, menyelesaikan masalah serta membuka ruang partisipasi masyarakat yang lebih luas. Pendidikan membuat dinamika dalam masyarakat di desa semakin hidup dan maju”, ungkap Omianus.

Sementara itu, Jefrianus Nino, SP., M.Si dan Wolfhardus Vinensius Feka, S.Pt., M. Pt masing-masing menyoroti potensi pengembangan lahan kering dan peternakan di desa Manusasi, melalui upaya pemberdayaan masyarakat. Pemberdayaan masyarakat tersebut diarahkan pada penguatan kapasitas dan kemandirian masyarakat untuk memanfaatkan berbagai potensi serta meningkatkan keterampilan dan kreativitas masyarakat, baik dalam hal pengelolaan lahan kering, peningkatan produksi hasil pertanian dan perkebunan, model peternakan skala kecil dan menengah, hingga keterampilan pembuatan pakan ternak berbasis sumber daya alam yang ada di desa. “Pemberdayaan masyarakat petani dan peternak merupakan jalan peningkatan angka kesejahteraan di desa Manusasi. Oleh karena itu, pemerintah desa dan masyarakat mesti membuka akses dan membangun kerjasama dengan berbagai pihak dari luar desa Manusasi untuk pemberdayaan masyarakat”, tandas Jefrianus. Pemberdayaan masyarakat petani dan peteranak tersebut semakin menujukkan urgensinya, mengingat posisi desa Manusasi sebagai salah satu teras depan Republik Indonesia. “Masyarakat sejahtera adalah wajah dari keberhasilan pembangunan desa. Apalagi sebagai desa perbatasan, pemberdayaan masyarakat ini penting untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat di desa Manusasi sebagai wallpaper Indonesia,” ungkap Wolfhardus.

Selanjutnya, Marsianus Fallo, SP., M. Si dan Antonius Feka, SP membahas perihal peran dan kinerja pemerintah desa sebagai penggerak utama pengembangan dan kemajuan desa. Dalam paparanya, Marsianus secara spesifik mendalami pentingnya pengelolaan BUMDES yang berkualitas, sebagai sarana untuk menumbuhkan dan memajukan usaha ekonomi kreatif masyarakat desa. Untuk tujuan itu, BUMDES mesti dikelola secara teratur, terorganisir serta profesional, sebagaimana telah diamanatkan dalam undang-undang. Sementara itu, dengan merujuk pada pengetahuan dan pengalamannya dalam hal etika pemerintahan, Antonius memberikan pandangan, masukan dan kritik, guna mendorong praktek pelayanan pemerintah desa yang akuntabel, transparan dan demokratis. Selain itu, Antonius juga secara khusus menekankan pentingnya peningkatan kapasitas melalui pengembangan soft skill, guna menunjang kinerja pemerintah desa Manusasi dalam pelayanan masyarakat.

Di lain sisi, Dionisius Taus, S.Pd memaparkan materi tentang peran pemuda dalam pembangunan desa. Menurut Dionisius, para pemuda perlu dilibatkan secara langsung dan aktif sebagai agen penggerak, perubahan dan kontrol dalam masyarakat. Oleh karena itu, pemuda desa Manusasi perlu dirangkul, diorganisir serta diberdayakan, sehingga dapat ikut memberikan kontribusi bagi pembangunan desa. “Tantangan bagi pemerintah desa adalah bagaimana membuka ruang dan mendorong peran pemuda untuk menyumbangkan sesuatu demi kebaikan bersama di desa. Pemuda juga perlu dibina dan diberdayakan, baik dalam hal jaringan kewirausahaan, usaha ekonomi kreatif, pembentukan karakter pemimpin serta penggerak partisipasi aktif masyarakat dalam pembangunan desa”, ungkap Dionisius. Beberapa pendekatan tersebut diharapkan akan membawa hasil yang bersifat mutualis, baik bagi pemerintah desa dalam mengelola kehidupan masyarakat, maupun bagi para pemuda dalam mempersiapkan diri untuk melanjutkan estafet kepemimpinan di desa Manusasi.

Dalam kegiatan diskusi panel ini, turut hadir pula Letda Muliobri Prabudi sebagai perwakilan dari pihak pasukan TNI yang betugas di Pos Pengamanan Perbatasan RI-RDTL Desa Manusasi. Letda Muliobri membawakan materi tentang ketahanan masyarakat desa di wilayah perbatasan negara. Dalam paparannya, Letda Muliobri menekankan tentang pentingnya wawasan kebangsaan bagi masyarakat di wilayah perbatasan, guna memfilter berbagai pengaruh negatif yang dapat mengganggu dan mengancam kehidupan bersama masyarakat dan kedaulatan negara. Untuk itu, masyarakat Desa Manusasi perlu terlibat aktif dalam upaya bela negara. “Upaya Bela Negara tidak hanya berarti mengangkat senjata untuk mempertahankan diri atau menyerang musuh. Dengan mengamalkan nilai-nilai Pancasila secara baik dan benar dalam hidup sehari-hari sebagai masyarakat, kita semua sudah bisa menunjukkan kecintaan kita pada negara. Ikut menjaga kondisi lingkungan agar tetap aman dan tertib, hidup sesuai dengan peraturan dan hukum yang berlaku serta saling menolong dalam semangat gotong royong adalah beberpa bentuk praktek sederhana dari bela negara” ungkap Letda Muliobri.

Menurut pantauan di lokasi kegiatan, tampak masyarakat Desa Manusasi menyambut baik dan terlibat aktif dalam kegiatan diskusi panel ini. Bahkan, kegiatan yang semula direncakan berakhir pada siang hari tersebut terpaksa diperpanjang durasinya hingga menjelang malam hari, lantaran antusiasme masyarakat dalam ikut memberikan tanggapan, pertanyaan dan komentar dalam sesi dialog terbuka.

Ketua pelaksana kegiatan diskusi panel, Heribertus Binsasi, S.Pd, M. Pd, mengaku puas dengan terselenggaranya kegiatan ini. Menurutnya, kegiatan diskusi panel ini dapat menjadi langkah awal jalinan kerja sama dari berbagai pihak demi pembangunan Desa Manusasi. Berbagai kekurangan dalam pembangunan desa yang terjadi selama ini perlu dikritisi dan didiskusikan, sehingga pemerintah dan masyarakat desa dapat bersama-sama menggapai tujuan pembangunan desa. “Karena kita cinta kampung kita sendiri, maka kegiatan ini terselnggara. Kita berharap, kegiatan ini bisa menjadi penggerak budaya literasi dan dialog di Desa Manusasi, untuk mendorong pembangunan yang transparan, efektif serta mengutamakan musyawarah mufakat. Selain itu, forum diskusi seperti ini dapat membuka wawasan masyarakat untuk melakukan perubahan dan pengembangan di berbagai bidang yang relevan dengan keberadaan desa Manusasi sebagai desa perbatasan”, tutur Heribertus.

Hal senada diungkapkan oleh Philipus Sau, selaku tokoh masyarakat Desa Manusasi. Ketika diminta komentar di sela-sela acara resepri setelah kegiatan diskusi panel ini, Philipus mengharapkan agar kegiatan diskusi bersama ini dapat bermanfaat sebagai mekanisme kontrol terhadap arah pembangunan di desa yang berkelanjutan. Oleh karena itu dibutuhkan adanya tindaklanjut dari kegiatan diskusi ini, baik oleh pemerintah maupun masyarakat Desa Manusasi. “Tentu kami mengucapkan banyak terima kasih kepada para panitia, para pemateri dan pemerintah desa, yang sudah bekerjasama hingga terselenggaranya kegiatan ini. Sebagai masyarakat dan orang tua, kami bangga dan akan terus mendukung gerakan anak-anak muda yang peduli dengan kampung halamannya dan mau berbuat sesuatu untuk masyarakat. Kami berharap, kegiatan ini tidak hanya berhenti pada hari ini, tetapi bisa berkelanjutan, dengan nuansa yang lebih bagus lagi”, ungkap Philipus. (raden taus)