Muhamad Jumadi, ST. MM : Revolusi Industri 4.0 Tidak Terjadi Secara Bertahap Seperti Orang Meniti Tangga.

Tegal – Salah satu fase penting dalam perkembangan teknologi adalah munculnya revolusi industri gelombang ke-4, atau yang lebih dikenal dengan sebutan industrial revolution 4.0. industrie 4.0 sendiri merupakan salah satu pelaksanaan proyek strategis teknologi moderen Jerman 2020 (Germanys High-Tech strategy 2020).

Strategi tersebut diimplementasikan melalui peningkatan teknologi sektor manufaktur, penciptaan kerangka kebijakan strategis yang konsisten, serta penempatan prioritas tertentu dalam menghadapi kompetisi global. Kata revolusi digunakan untuk menunjukkan perubahan yang sangat cepat dan fundamental serta bersifat distruptive.

Revolusi Industri 4.0 terjadi hampir disemua lini kehidupan, dan perubahan itu memberi peluang sekaligus tantangan bagi generasi muda, termasuk perguruan tinggi dan Pesantren, demikian papar Wakil walikota Tegal Muhamad Jumadi,ST,MM dihadapan peserta seminar dan silahturahim Alumni Institut Agama Islam Bhakti Negara (IBN) Tegal di Aula Pertemuan IBN Slawi (14/1/2020).

Seminar dan Silaturahmi Alumni Institut Agama Islam Bakti Negara (IBN) Tegal di Aula Pertemuan IBN Slawi, mengusung tema Peran Perguruan Tinggi Islam dan Pesantren dalam Kemandirian Ekonomi Menghadapi Era Disrupsi 4.0.

Wakil Walikota Tegal Muhamad Jumadi, ST. MM bersama Staff Khusus Presiden RI Aminuddin Ma’ruf hadir sebagai narasumber dalam kegiatan temu kangen para alumni IBN yang dihadiri ratusan peserta dari kalangan mahasiswa Institute Agama Islam Bakti Negara maupun masyarakat umum.

Wakil Walikota Tegal Muhamad Jumadi ST.MM, dalam sambutannya menuturkan, perubahan besar dan mendasar itu dalam revolusi industri 4.0 ini disebut sebagai disrupsi. Dalam era disrupsi, perubahan tidak terjadi secara bertahap seperti orang meniti tangga. Perubahan pada era itu bagaikan gelombang besar yang meluluhlantakkan ekosistem lama dan menggantinya dengan eksosistem baru yang sama sekali berbeda. Dengan kata lain disrupsi merubah tatanan lama yang sudah terbentuk bertahun-tahun.

Di era revolusi industri 4.0 kita akan sangat bergantung pada teknologi moderen. Siapa menguasai teknologi dia akan survive. Para Daipun kedepan diharapkan mampu menguasai teknologi jika ingin menunjukkan eksiitensinya.
MJ begitu Muhamad Jumadi biasa disapa, lalu memberikan contoh, ceramah yang dilakukan dalam waktu sekejab sudah bisa diketahui orang di luar Tegal dengan merekam di gadget, kemudian disebarluaskan dan apa yang kita bicarakan saat ini langsung diketahuio masyarakat luas.
Manfaatkan teknologi dengan hal-hal yang positif agar bisa bermanfaat bagi masyarakat luas dalam memberikan wawasan dan pola pikir positif.

MJ kemudian menjelaskan bagaimana Pemerintah Kota Tegal menerapkan teknologi dalam layanan publik. Layanan publik di Kota Tegal terkoneksi secara on line sehingga masyarakat dengan mudah mengetahui perkembangan yang terjadi di Kota Tegal. Masyarakat tidak perlu datang ke kantor kecamatan, tidak perlu ke kantor kelurahan, dengan kemampuan teknologi semua urusan akan menjadi mudah. Namun untuk mencapai kemajuan perlu bersinergi dan kolaborasi, SDM nya harus kompetitif, skill, dan bisa mengikuti industri 4.0 serta fokus pada riset.

Mengakhiri sambutannya MJ berharap dalam menghadapi era disrupsi para Santri dan Mahasiswa harus mampu memiliki skill bahkan jika perlu siap mengikuti pelatihan untuk menghadapi pasar tenaga kerja yang sesuai kebutuhan industri.

Sementara itu Staff Khusus Presiden RI Aminuddin Ma’ruf dalam paparannya mengatakan Indonesia kini mengalami bonus demografi dimana usia produktif masyarakat lebih banyak dibanding usia non produktif.

Dalam penyampaiannya Staf Khusus yang mewakili generasi milenial ini menyampaikan 5 program prioritas pemerintah Jokowi yakni pembanguan sumber daya manusia, pembangunan infrastruktur, penyederhanaan segala bentuk regulasi, penyederhanaan birokrasi dan transformasi ekonomi.

Pembangunan SDM, bagaimana santri dapat berdaya saing.
Aminudin menegaskan bahwa saat ini Pesantren tidak hanya menjadi pusat kegiatan sosial keagamaan tetapi juga akan menjadi pusat ekonomi masyarakat dan mampu mencetak SDM unggul.
“Pemerintah akan membangun 2000 Balai Latihan Kerja khusus untuk pesantren. Jadi santri selesai ngaji akan dilatih untuk siap menghadapi pasar tenaga kerja. Santri harus punya skill yang sesuai kebutuhan industri” pungkas Aminuddin mengakhiri paparannya. (fw)