Solidaritas Mahasiswa Lamaholot Unidha Malang Bersuara Soal Penggusuran Lahan Rumah di Waiwadan -Adonara Barat – Inilah Empat Tuntutan Mahasiswa !!!!

Penggusuran lahan rumah warga di desa Waiwadan – Kecamatan Adonara Barat-Kabupaten Flores Timur – Provinsi NTT pada tanggal 14 Januari 2019 lalu menggugah nurani mahasiswa asal Lamaholot yang saat ini masih menempuh pendidikan di Kampus Unidha Malang bersuara.

Dalam siaran pers yang diterima redaksi media ini yang ditulis Arafik Burhan(Lamwato) menuntut empat hal yang harus diperhatikan para pihak.

Pertama, Segera memfasilitasi korban penggusuran.

Kedua, hentikan tindakan intimidasi oleh aparat terhadap korban penggusuran.

Ketiga, Segera ganti kerugian para korban yang dirugikan

Keempat, Meminta Pemerintah Daerah Flores Timur segera menindakan lanjuti persoalan penggusuran dengan cara memperhatikan kepentingan para korban penggusuran.

Pernyataan sikap Solidaritas Mahasiswa Lamaholot Unidha Malang yang ditandatangani Arafik Burhan itu menyebutkan apa yang dilakukan aparat negara terhadap warga desa Waiwadan itu merupakan tindakan perampasan lahan dan penggusuran secara paksa dengan cara intimidasi kepada korban diluar tindakan
Perikemanusiaan.

” Kami dari mahasiswa sangat menyesalkan karena penggusuran yang dihadiri PN Larantuka (Lahibu SH) bersama aparat kepolisian dan TNI yang membawa  1(satu) unit eksavator alat berat dalam penggusuran itu sangat merugikan masyarakat setempat”

“Lahan seluas satu hektar beserta isinya rata tanah. 6(enam) rumah digusur,kebun kelapa, kebun pisang,kebun kakao,dan beberapa pohon buah alpukat rata tanah’

” Selama beberapa hari setelah penggusuran itu tidak ada perhatian dari pihak terkait sehingga sangat merugikan masyarakat korban penggusuran”

“Kepala desa setempat atas inisiatifnya membantu beberapa lembar terpal kepada para korban dan untuk bantuan logistik kebutuhan primer sehari-hari dari pengusaha lokal di desa setempat”.

“Kondisi pengungsian masyarakat di lahan sekitar lokasi penggusuran dan kondisi iklim di wilayah tersebut lagi diterpa hujan lebat menambah sengsara para korban”

“Imbas penggusaran
sangat menggangu aktivitas masyarakat setempat untuk melangsungkan kehidupan mereka karena masyarakat rata-rata bertani. Secara psikologis sangat mengganggu proses belajar mengajar anak-anak dari pihak korban” .

“Kita minta para pihak terutama Pemkab Flotim segera memperhatikan kebutuhan para korban penggusuran agar tidak memberikan dampak yang lebih buruk bagi korban penggusuran terutama anak-anak”

Hingga berita ini diturunkan Pemkab Flotim, PN Larantuka, TNI dan Polri yang disebutkan dalam pemberitaan ini belum berhasil dikonfirmasi. (boni)