Jalan-Jalan Hidupku Telah Aku Ceritakan dan Engkau Menjawab Aku – Oleh herry klau

Malaka – Saya sudah lupa, tahun berapa saya mengenal dan bertemu dengan almarhum. Yang saya ingat, ketika masuk di Seminari Lalian tahun 1989/1990, nama beliau disebut ketika kami beramai-ramai mengikuti Misa Tahbisan Imam Baru September 1990 di Katedral Atambua. Selebihnya, sebagai seminarist saya mengenal beliau sebagai seorang imam keuskupan atambua, pastor paroki di Maubesi, Atapupu dan terakhir di Labur.

Romo Maxi Alo Bria, Pr nama yang kemudian sering saya sebut karena sebagai imam, beliau banyak berkecimpung di dunia orang muda katolik yang dulu dikenal dengan nama Mudika dan kemudian Pemuda Katolik

Beberapa kegiatan Mudika, menjadi saat-saat di mana, Romo Maxi terlihat begitu gagah perkasa di depan orang-orang muda katolik yang tersebar di seantero Keuskupan Atambua ini. Nama pastor ini selalu menjadi buah bibir karena kecintaannya kepada dunia muda, dunia yang mengharuskan dirinya terjun dan bertolak lebih dalam untuk menghayati panggilan hidupnya sebagai seorang imam. Dunia muda yang mengharuskan dirinya berjibaku dan malang melintang mengunjungi dari satu paroki ke paroki lain sambil berbuat baik (pertransiit benefaciendo).

Lantas, tidak berhenti di situ. Kecintaan akan dunia kaum muda seakan merasuk dirinya sehingga sebagai Ketua Komisi Kepemudaan Keuskupan Atambua, dirinya terbang jauh, mengepakkan sayapnya untuk melihat dari dekat peranan kaum muda untuk menerangi dan menggarami dunia. Dan Romo Maxi Alo Bria tiba pada titik ini.

Saya lalu tahu, Romo Maxi atas SK Uskup Atambua ditempatkan di salah satu paroki di pesisir pantai utara, Stella Maris Atapupu. Sebagai orang fehan yang dekat dengan laut juga, Romo Maxi pasti belajar sambil berbuat di tempat tugas baru. Passion dan kharismanya lalu menjalar dan menembus jantung hati umatnya yg sebagian besar hidup di laut. Ia menebarkan jalanya, merenda pukatnya menjadi lebih besar dan terbuka. Ia menjadi penjala manusia bahkan menambatkan perahunya yang dikemudinya belasan hingga puluhan tahun di Atapupu, paroki yang punya nama besar dalam sejarah Gereja Katolik Indonesia.

Hampir 2 dekade berada di Pantura, Romo Maxi didorong lagi ke arah selatan Dekenat Belu Utara, tepatnya di Labur. Sebagai paroki baru, Labur butuh sosok pekerja keras, sosok humanis dan familiar dan bahkan figur “keras dan tegas” seperti Romo Maxi.
Paroki Labur yang masih merangkak, harus dipapah dan digendong oleh Pastor Maxi untuk melihat dunia lebih luas. Romo Maxi bahkan bersama-sama umatnya berjalan bersama, bergerak bersama dan berada bersama menuju ke sebuah rumah idaman bagi umatnya.

Namun Tuhan berkehendak lain.

Jalan-jalan hidup telah dia ceritakan kepada setiap kita yang mengenalnya. Jalan yang berlekak lekuk, jalan yang terjal dan curam, jalan yang berbukit, jalan yang tak semua orang melewatinya. Cerita-cerita di sepanjang hidupnya yang dia tulis, dia jalani telah dia berikan kepada kita.

Selamat Jalan Romo Maxi…..karena hidup hanyalah sebuah cerita yang tak pernah usai hingga ajal datang menjemput.

Beristirahatlah Dalam Damai….. (*)