Peter A. Rohi, Jurnalis Yang Selalu Ingin Memahami Pergulatan Sejarah Bangsanya

Bayangkan anda di tengah suasana yang kacau, dibawah tekanan milisi bersenjata yang meneror siapa saja, tembakan dan ledakan sepanjang siang malam, aparat negara yg tidak berfungsi dan kelompok Klandestin yang berupaya melawan dalam ‘pertempuran-pertempuran kecil’ di jalanan. Saya mengalaminya bersama pak Peter Rohi di Timor Timur sepanjang September 1999, sebelum, saat pelaksanaan dan paska jajak pendapat.

Pak Peter adalah satu dari sedikit wartawan yg bertahan di Timor Timur, karena sebagian besar pekerja media sudah keluar, atau lebih tepatnya dipaksa keluar dari wilayah konflik itu. Salah satu caranya, hotel Mahkota tempat mereka menginap ditembaki. Keputusan bertahan butuh nyali dan daya tahan. Kami membuktikan sebuah ‘neraka kecil’ yang tidak semua orang bisa merasakannya. Bersama kawan yang lain awalnya kami ingin tetap bertahan di kantor KIPPER-Solidamor di Dilli. Dalam hitungan jam ternyata kondisi semakin keruh. Satu persatu rumah, toko dan kantor diberbagai wilayah dibakar dalam politik bumi hangus paska pengumuman hasil jajak pendapat yang pilihannya mayoritas rakyat Timor-Timur ternyata ingin merdeka. Rumah tempat kami bertahan beserta mobil operasional juga ikut dibakar setelah kami pergi mengungsi. Malam sebelum kami pergi sebuah ledakan (semacam geranat) meluluh lantakan rumah tetangga belakang. Ditengah situasi itu pak Peter, bung Tosi dari Radio Nederland dan Tri Agus Susanto Siswowiharjo tetap melaporkan berita via handphone kepada media di Jakarta. Suara rentetan tembakan ikut terdengar oleh para pendengar di radio yang menyiarkan laporan itu. Kami berpindah-pindah dari satu ke lain tempat dari Dilli, Baucau hingga ke Laga. Api dari rumah-rumah yg terbakar itu menjilat-jilat ke segala arah, panasnya bisa saya rasakan hingga di dalam mobil yg ber-AC di sepanjang jalan.

Di Landasan Udara Baucau, Timor Timur saya ingat insiden yang hampir merenggut nyawa putra pak Peter (putra & putri pak Peter ikut jadi pemantau independen Jajak Pendapat). Menjelang masuk ke lingkungan dalam Lanud, kami berpapasan dengan puluhan orang bersenjata. Mereka milisi pro-Indonesia dan prajurit batalyon 745 yang sedang mencari anggota CNRT beserta para pendukungnya. Hanya karena berambut gondrong dan dianggap simpatisan FRETILIN, Putra pak Peter dikeroyok oleh milisi dan prajurit itu. Dibawah todongan senjata dan bayonet menempel di leher, pak Peter dengan insting orang tua kepada anaknya berupaya memeluk dan melindungi putranya. Saya dan teman lain ikut melerai sambil mengawasi mobil yang digunakan untuk menyembunyikan Yeni Rosa Damayanti beberapa meter dari tempat kejadian. Pada akhirnya kami lolos naik Hercules bersama pengungsi lain menuju Kupang dan menginap dua hari di rumah keluarga pak Peter. Semua pengalaman itu dituangkan dalam tulisan apik dan detil oleh pak Peter di koran Suara Pembaruan secara berseri.

Menjelang jatuhnya presiden Gus Dur dari kekuasaan, saya bertemu kembali dengan pak Peter. Ketika Gus Dur mengumumkan Dekrit pembubaran DPR dan partai Golkar, saya sengaja tidak ikut kawan-kawan aktivis masuk ke istana dalam rangka memberi support kepada Gus Dur. Dengan seorang kawan saya berkeliling Monas melihat tentara yg berkemah dan menggelar persenjataan berat di sana. Lalu saya lewat Polda dan Mabes Polri. Hampir tidak ada pergerakan pasukan untuk melaksanakan perintah eksekutif presiden dalam rangka mengamankan Dekrit itu. Saya langsung bergumam: “Wah, Gus Dur kelihatannya bakalan jatuh nih”, karena tidak ada kekuatan politik efektif yang bisa digerakkan untuk melaksanakan dekritnya. Akhirnya saya menuju jl. Teuku Umar di sekitar rumah kediaman Wakil Presiden Megawati. Dua panser bersiaga dikedua ujung jalan itu. Diantara para jurnalis yang sedang berada di jalur hijau di jl. Teuku Umar saya berpapasan dengan pak Peter. Kami berbincang sebentar. Dia bilang, dan itu selalu saya kenang: “Kita musti mengikuti peristiwa-peristiwa politik besar dan perubahan secara langsung di lapangan, jangan cuma mendengar laporan di balik meja. Agar kita punya pemahaman yang baik tentang sejarah bangsa ini secara lebih personal dan mendalam”.

Pak Peter telah membuktikan dirinya sebagai jurnalis lapangan yang handal. Dia sepertinya ingin terus membuktikan sebuah adagium. Arthur Miller, seorang esais Amerika merumuskannya: “A good newspaper, I suppose , is a Nation talking to itself”. Saya sedikit menambahkan: “A good journalist, I suppose, is a Nation talking to itself”….

Selamat jalan pak Peter Rohi….(Toni Listiyanto, Aktivis Politik).