Terobosan Factory Sharing KOPITU untuk Tingkatkan Kualitas, Kuantitas, Kontinyuitas Produksi IKM

Berbagai kendala dihadapi oleh para pelaku Industrik Kecil dan Menengah (IKM) di Indonesia. Kendala yang dihadapai mulai dari harga produksi yang tinggi, izin edar BPOM, sertifikasi produk halal, pengetahuan mengenai Standar Nasional Indonesia (SNI), sampai pemasaran secara online / digital marketing.

Keresahan dan kendala para pelaku IKM tersebut melatarbelakangi  Komite Pengusaha Mikro Kecil Menengah Indonesia Bersatu (KOPITU) mengadakan webinar dengan tema Penguatan Daya Saing IKM melalui Konsep Factory Sharing Agar Sukses di Market Nasional Dan Ekspor pada hari selasa, 22 Desember 2020 guna menjawab permasalahan dan kendala yang dihadapi para pelaku IKM.

Webinar kali ini dihadiri oleh Dr. Agus Gumiwang Kartasasmita, M.Si. selaku Menteri Perindustrian Republik Indonesia, Gati Wibawaningsih selaku Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka (Kementerian Perindustrian), Drs. Kukuh S. Achmad, M.Sc., Apt. selaku Kepala Badan Standarisasi Nasional (BSN), Wini Purwanti selaku Deputi Direktur Departemen Pengembangan IKM dan Perlindungan Konsumen Bank Indonesia, Prof. Ir. Sukoso, MSc., PhD. Selaku Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal, Dra. Rita Endang., Apt., M.Kes selaku Deputi Bidang Pengawasan Pangan Olahan Badan POM, Iriana Ekasari selaku pengurus KOPITU bidang Perdagangan Dalam dan Luar Negeri, Ashikin Chalifah selaku Sekjen KOPITU, dan webinar kali ini dimoderatori langsung oleh Ketua Umum KOPITU, Yoyok Pitoyo.

Menurut Agus Gumiwang, skala, lisensi, dan efisiensi produksi harus ditingkatkan, dan Factory Sharing bisa membuat itu semua dapat terwujud. Factory Sharing merupakan sebuah fasilitas teknis produksi yang digunakan bersama oleh beberapa pelaku industry dengan jenis komoditi yang sama sehingga dapat meningkatkan skala produksi IKM.

Factory Sharing yang dibuat KOPITU untuk para pelaku IKM akan menerapkan standar yang seuai dengan persyaratan untuk memperoleh izin edar dari BPOM, sistem produksi yang halal sesuai dengan persyaratan BPJPH dan sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI). Hal ini dimaksudkan agar produk yang dibuat IKM memiliki kualitas yang sangat tinggi dengan harga yang lebih terjangkau sehingga dapat bersaing secara lebih kompetitif karena sudah terpenuhinya persyaratan izin edar dari BPOM, sertifikasi Halal, dan sesuai dengan SNI.

Selain efisiensi dan standarisasi produk, faktor lain dalam sistem produksi seperti kurasi kualitas produk, supply chain, akses pembiayaan, desain kemasan, sampai digital marketing juga menjadi pembahasan dalam konsep factory sharing.

“Selain efisiensi produksi, digital marketing juga perlu diketahui oleh IKM. Pasar sudah mulai beralih dari penjualan produk secara offline ke online, bahkan penjualan melalui online secara umum jauh lebih tinggi persentasinya, akan tetapi ada pelaku IKM yang menjual produknya melalui e-commerce selama 6 bulan masih belum laku. Hal ini menjelaskan bahwa pentingnya pembekalan pengetahuan mengenai Factory Sharing kepada para pelaku IKM dimana salah satu strategi marketingnya melalui e-commerce atau digital marketing lainnya” Jelas Yoyok

Pernyataan Yoyok yang mewakili keluh kesah pelaku IKM direspon oleh Menteri Perindustrian RI, Dr. Agus Gumiwang Kartasasmita, M.Si. Agus Gumiwang menerangkan bahwa pemerintah selalu hadir untuk para pelaku IKM.

“Kita tidak boleh menyalahkan sistem onlinenya, melainkan memberikan solusi untuk para pelaku IKM, dan acara webinar ini merupakan salah satu cara untuk menyelesaikan masalah tersebut” ujar Agus Gumiwang.

Karena produk IKM yang dihasilkan melalui konsep Factory Sharing memiliki kualitas yang sangat baik, maka pemasaran produknya bukan hanya menargetkan pasar domestik saja, melainkan juga pasar global.

Kementerian Perindustrian siap untuk bekerjasama dengan KOPITU untuk mengembangkan IKM.

Hal ini diungkapkan oleh Gati Wibawaningsih dalam webinar. “Kami siap bersinergi dengan KOPITU untuk mengembangkan IKM, dan ekspor produk yang dihasilkan oleh IKM” jelas Gati. (fw)