Catatan Pinggir : Jangan ‘ Sok Tahu ‘ Mendahului Kehendak Tuhan

Sebagai satu-satunya mahluk Tuhan yang diberi akal sehat, manusia kadang merasa terlalu pintar dari penciptanya, hingga dengan sendirinya membuat rencananya sendiri tanpa mempertimbangkan konsep nyata yang telah Tuhan gariskan. Bermain dengan imajinasi, lantas membuat sebuah ekspektasi yang belum tentu Tuhan sepakati.

Sayang, nampaknya kita terlalu sering mendahului kehendak Tuhan, maka mulai saat ini, kita tidak perlu terburu-buru memainkan peran yang Tuhan gariskan, bermain tebak-tebakan tentang akhir cerita yang kita jalani atau bahkan membuat cerita kita sendiri. Layaknya kita belajar untuk menyelaraskan hati dan akal, dengan kehendak Tuhan.

—————-***—————–

Sidang perdana dan kedua sengketa Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) Pilkada Malaka 2020 di Mahkamah Kontitusi (MK) barusan selesai. Tentunya sidang ini menyedot perhatian publik. KPU bertindak sebagai tergugat, sementara penggugat ialah Paslon SBS-WT.

Perhelatan sidang MK, telah menimbulkan multitafsir yang di ciptakan oleh pihak terkait. Pihak terkait ini paling rajin membuat kegaduhan, dengan membuat tafsiran melalui pembentukan opini, lalu saling serang di medsos. Padahal pihak terkait itu bukan pengambil keputusan, malah terus mempertegang keadaan.

Sebaiknya, kita percayakan kepada proses hukum. Beri kesempatan MK menilainya. Bagi yang lain silahkan bekerja profesional di pihaknya masing-masing untuk mencari bukti dan kontra bukti. Kita butuh perdebatan rasional dalam ruang sidang dan menanti keputusan yang mengikat.

Perdebatan yang terjadi diluar ruang sidang tidak akan ada keputusan. Bahkan menambah kekacauan. Kadang-kadang yang kejadian benar pun kita menepis, padahal substansinya benar. Oleh karena itu, mari kita lembagakan sistem demokrasi kita melalui jalan konstitusional di MK.

Pilkada Malaka 2020 sudah selesai, seandainya keputusan MK itu membalikkan apa yang diputuskan oleh KPU, memang prosedurnya begitu, kita harus siap dan jangan kaget, kalau yang dimenangkan oleh KPU ternyata dikalahkan oleh MK. Maka sekarang jangan dulu menikmati ucapan selamat. Kalau nanti MK memutuskan bertentangan dengan keputusan KPU, semua orang musti siap.

Sebaliknya kalau nanti MK memutuskan membenarkan KPU, yang mengajukan permohonan juga musti siap. Itu jalan terakhir dan harus dibuka. Biar rakyat menonton, tahu mana yang benar antara dua versi. Sehingga apa yang diputusan MK, sudah merupakan kesepakatan tertinggi sistem konstitusi kita.

MK itu profesional, independen, dan tidak berpihak untuk kepentingan siapapun, kecuali hanya untuk kebenaran dan keadilan konstitusional. Kita tidak boleh mendahului Tuhan, karena kita tidak pernah tahu rahasia Tuhan di balik semua peristiwa ini. Semua sudah ada jadwalnya. Maka kita harus rendah hati, jangan dulu merasa sudah jadi Bupati. Panggil-panggil susun kabinet, nanti dulu sesudah keputusan MK dan penetapan oleh KPU, karena saat ini masih berperkara di MK. (Boni)