Ekspor Pertanian Luar Biasa, Ditjen TP : “Kembangkan dan Cari Tahu Keunggulan Pangan Lokal”

JAKARTA: Ekspor produk pertanian dalam bentuk raw material maupun processed material makin mengalami peningkatan dari waktu ke waktu. Berkaca pada pencapaian tahun lalu, tercatat nilai ekspor belasan jenis makanan olahan mencapai 95,64 persen dari total nilai ekspor makanan pada 2020. Adapun 15 negara tujuan ekspor produk makanan olahan RI, adalah Amerika Serikat, Filipina, Malaysia, China, Singapura, Jepang, Thailand, Arab Saudi, Australia, Vietnam, Belanda, Taiwan, Korea Selatan, Nigeria, dan Burma.

Hingga beberapa waktu lalu pada program Merdeka Ekspor Pertanian, total nilai ekspor produk pertanian Indonesia mencapai lebih dari 7 triliun yang dikirim ke 11 negara. Hal ini menunjukkan bahwa kekuatan pertanian Indonesia sangat besar.

Hal tersebut disampaikan oleh Dirjen Tanaman Pangan Suwandi pada Webinar KOPITU dan Propaktani, (29/10). Webinar itu turut dihadiri oleh Konsul Jenderal RI di Sydney Verdi Kurnia Buana, Ketua Umum KOPITU Yoyok Pitoyo, Syarief Thalib selaku Managing Director STAR Investment NZ Ltd sekaligus mitra KOPITU di New Zealand, dan Amiranto Adi Wibowo selaku CEO Indonesia In Your Hand.

“Sebetulnya banyak sekali potensi pangan lokal yang entah sudah kita ketahui atau belum, yang justru menjadi nilai tambah produk olahan pangan kita di pasar ekspor. Inilah yang perlu kita angkat untuk meningkatkan ekspor kita, terutama untuk komoditi GRATIEKS”, ungkap Suwandi.

Ketum KOPITU Yoyok Pitoyo menambahkan bahwa peningkatan ekspor tidak hanya perlu dari segi kuantitas saja yang secara signifikan.

“Seperti kata pak dirjen tadi, kami KOPITU juga berusaha turut serta melakukan peningkatan ekspor terutama akselerasi”, ungkap Yoyok.

Menurutnya, akselerasi ekspor penting untuk menjaga kestabilan supply chain sehingga tidak terjadi perubahan pasar yang bisa menjadi bencana besar dalam supply chain.

“Terutama dengan adanya dua persetujuan bilateral dengan Australia dan New Zealand, sebenarnya sudah mendorong para pengusaha untuk meningkatkan ekspor”, tambahnya.

“Pertama kami apresiasi sekali dengan pelaksanaan webinar ini. Kami pun terus berusaha membuka pasar pangan olahan untuk para pelaku usaha kita di Indonesia.

Sebetulnya betul yang disampaikan Pak Yoyok tadi, informasi pasar sebenarnya banyak. Kita pun lakukan kerjasama tidak hanya dengan pemerintah setempat, tapi juga dengan pihak-pihak swasta dan perusahaan-perusahaan di sini”, ungkap Konjen Verdi.

“Sebenarnya tidak begitu sulit jika produk kita sudah memenuhi syarat menurut BPOM dan Halal. Produk buatan Indonesia banyak yang bagus di sini. Apabila para pelaku usaha berniat memasarkan, pilihlah brand yang menarik. Di samping itu adalah dari segi kemasan dan deskripsi produk, agar tidak bertele-tele namun tetap informatif dan menarik. Kalo sudah eye catching, akan mudah menindaklanjuti.”, ungkap Syarief Thalib

“Saya berhubungan dengan Pak Yoyok ini udah hampir setahun, dan dari situ kami mengetahui kalo Kurasi itu sangat penting. Ini juga yang saya selalu sampaikan ke mitra-mitra kami”, tambahnya.

“Kalau untuk produk pertanian sendiri sebetlnya pasar yang ramai adalah pasar produk organik. Saya rasa indeks atau indikasi geografis pertanian perlu juga ditingkatkan. Itu menjadi salah satu pertimbangan bagi perusahaan di luar negeri. Mungkin itu yang perlu kita tambahkan di pertanian Indonesia”, tutur Amir. ( fw)