Ketum Akademi Nusantara Bersatu Lepas Tim Garuda Baru ke Street Child World Cup Doha 2022, Doha.

Boni Atolan

JAKARTA: Tim sepakbola Indonesia siap berlaga di Piala Dunia Khusus Anak Jalanan atau Street Child World Cup 2022 di Doha, 8 – 15 Oktober 2022. Bertempat di Menteng Huis, Jakarta Pusat, Kamis (6/10), Ketua Umum Yayasan Akademi Nusantara Bersatu, Fary Djemi Francis bersama Deputi Bidang Perlindungan Anak Khusus Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Nahar dan Komisioner KPAI, Jastra, melepas keberangkatan Tim Putri Garuda Baru menuju Qatar.
Tim yang difasilitasi oleh Yayasan Kampus Diakoneia Modern dan Yayasan Sahabat Anak mendapat dukungan sponsor dari Yayasan Akademi Nusantara Bersatu.

“Salam dari Ketua Dewan Pembina Yayasan Akademi Nusantara Bersatu Prabowo Subianto. Selamat berjuang bagi para pemain, kibarkan sang merah putih karena sepakbola adalah kebanggaan dan jati diri bangsa Indonesia. Itu pesan Ketua Dewan Pembina Akademi Nusantara Bersatu,” tegas Fary Djemi Francis.
Ketua Dewan Pembina Yayasan Akademi Nusantara Bersatu, Prabowo Subianto sangat mendukung kiprah pemain-pemain Indonesia dalam kejuaraan Street Child World Cup 2022 yang diikuti oleh 25 negara. Adapun kriteria pemain yang diberangkatkan adalah anak jalanan dan anak-anak yang tinggal dilingkungan marginal, seperti komunitas pemulung, padat penduduk, nelayan dan harus amatir, berusia antara 14-17 tahun. Dukungan Yayasan Akademi Nusantara Bersatu sebagai sponsor keberangkatan tim Garuda Baru ke Doha tentunya mendapat apresiasi dari Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan manejer tim putri Garuda Baru Jessica Hutting.

Dalam sambutannya Fary sedikit berceritera tentang Akademi Nusantara Bersatu, yang telah menyusun blue print yang dinamakan “Nusantara Way” denga target agar anak-anak Indonesia bisa tampil di Piala Dunia 2030. Ada 3 target dalam Nusantara Way. Pertama, Akademi Nusantara Bersatu akan memberikan kesempatan untuk bisa berlatih sepakbola secara modern bagi talenta-talenta muda. Kedua membangun karakter pemain dan ketiga membangun sepakbola nasional yang dikaitkan dengan kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Tadi disampaikan, bahwa tujuan sepakbola jalanan ini membangun karakter dengan kondisi dan situasi anak-anak kita. Ini sejalan dengan salah satu tujuan dari Nusantara Way, membangun karakter. Untuk itu kami memberikan dukungan penuh kepada tim Garuda Baru yang akan berlaga di Doha. Ini adalah kesempatan bagi anak-anak kita untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya,” ujar Fary yang juga menjabat sebagai Komisaris Utama ASABRI.

Menurut Manejer Tim Jessica Hutting, debut tim Garuda Baru dimulai saat Piala Dunia Anak Jalanan di Rio de Jeneiro, Brazil tahun 2014. Saat itu Indonesia mengirim tim putra dan putri. Kemudian berlanjut di Piala Dunia Anak Jalanan di Moskow, Rusia tahun 2018. Kali ini Indonesia hanya mengirim tim putra saja.

Lanjut Jessica, bahwa selain sepakbola Piala Dunia Anak Jalanan, kegiatan ini juga memberikan kesempatan bagi anak-anak dari berbagai negara yang hidupnya terkoneksi dengan jalanan untuk mengikuti konfrensi anak jalanan yang membahas isu-isu seputar anak dan sekaligus memperkenalkan budaya Indonesia di Qatar.

“Kali ini kita hanya mengirim tim putri, karena isu-isu sosial terkait anak perempuan di Indonesia patut menjadi perhatian bagi masyarakat luas. Tingginya angka kekerasan seksual pada anak perempuan atau pernikahan usia dini adalah beberapa alasan bahwa anak perempempuan Indonesia belum sepenuhnya terlindungi,” tutur Jessica.
Street Child World Cup 2022 di Doha merupakan kejuaraan khusus untuk anak jalanan tingkat dunia yang ketiga kalinya diikuti Indonesia. Tahun 2018, diwakili tim putra, Indonesia melaju hingga babak semifinal dan berhasil menyabet penghargaan individu penjaga gawang terbaik. Sementara pada tahun 2014 di Brazil, dengan menurunkan tim putra dan putri, pasukan Garuda Baru menyabet penghargaan Best Team Spirit (Putra) dan The Fair Play Team (Putri).

Event ini diselenggrakan dalam rangka menyambut FIFA World Cup 2022, tapi event ini tidak berkorelasi dengan FIFA. Street Child World Cup sejarahnya diawali dari Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Untuk menyamput gelaran FIFA World Cupa Afrika Selatan, dilakukan penertiban umum terhadap anak jalanan sehingg banyak yang tangkap dan diperlakukan tidak manusiawi. Melihat hal itu para volentir kemanusiaan membuat event khusus untuk anak jalanan berupa kompetisi, konfrensi anak dan berlanjut seiring setiap penyelenggaraan Piala Dunia. Walaupun tidak korelasi dengan FIFA, kegiatan ini dilakukan sebagai ajang untuk menyambut pesta sepakbola dunia, FIFA World Cup 2022 Qatar. ( fw)